Dunia tetap Berlanjut, Kawan

Dunia tetap berlanjut, kawan,
meski dalam temaram, keremangan tujuan dan kenyataan

Dunia tetap berlanjut, kawan,
meski dalam hitam, linangan kesedihan

Dunia tetap berlanjut, kawan,
meski dalam suram, tapi ini jalan Impian !

Jerman, dalam pelukan cita dan asa,
kau lekatkan kuat-kuat dalam hati baja,
melawan karat dunia, gangguan dan cobaan masa depan,

kau bukan manusia biasa, bebanmu luar biasa,
beban luar biasa, pendidik mereka yang sukses mulia,

kau memang sekadar manusia, tapi bukan manusia sekadarnya,

hiduplah ! hiduplah ! hidupkanlah hidupmu kawan !
lepaslah kegalauan, jauhilah kebingungan, bungkamlah keheningan !

lihatlah pada dirimu yang luar biasa,
banggalah, pertahankanlah, dan gapailah lebih,

lapangkanlah hatimu, besarkanlah jiwamu,
banggakan 'ia' yang kini terbaring dalam sunyi,

kabarkanlah berita gembira padanya,
tunjukan Jerman padanya,
tunjukan manisnya iman padanya,
tunjukan usaha terbaikmu, kawan

tajamkanlah keinginan, bukalah jalan, dan ikhlaskan pikiran,
dalam redupnya jalan impian, dalam sepinya jalan harapan,
aku menunggumu,
mari kita beriringan bersama, kawan,



Balada Pendosa



Tertatih dalam pendakian, sakit dalam penurunan.
Memandang, merenung, memaknai kehampaan.

Berhenti sejenak dalam arus deras kehidupan, mengambil nafas, tertinggal langkah namun bersiap meninggalkan dengan langkah lebih besar dan panjang.

berteman gelap, bermandikan kesunyian.

mengerling dari kejauhan, menatap dengan keberanian.
Menuntut pemilik badan luruskan jalan.

Ia yang termakan godaan. ia yang tak sabar menahan. ia yang seakan lupa kematian. Hanya bisa menyesal kemudian.

Kesusahan terpancar dalam tatapan. Terlukis hati yang tak lagi mapan.

Mata yang enggan terlelap, menunggu tuan segera bertobat.
Dalam lamunan menyusun harap, pada sisa waktu entah berapa lama itu.

Bertanya pada sahabat, kenapa kini kita jarang tenggelam dalam akrab, kenapa kini kita cinta berdebat.

kini kita tak lagi sejalan dalam dekat.
kini kita memanggul beban berat.
maka, dosakah jika punggung ini ikut memanggulnya juga, wahai sahabat ?

Tangan tak lagi tergenggam.
teriakan hati bersembunyi dalam kerutan.
kau dan aku, kita hanyalah korban.

bukan kesombongan. bukan keangkuhan.
hanya saja nurani telah lelah dalam perdebatan.
batin yang letih dalam kepura-puraan.
dan cobaan yang terus sebabkan pertempuran, sedang bantuan tak kunjung datang.

kita begitu berbeda. nasib kita tak sama
namun kita sejatinya sama.
kita yang memilih memeluk mimpi, memperjuangkan asa.

tenanglah, wahai kawanku. bukankah manisnya hidup terasa setelah perjuangan ?
lepaskan keheningan itu. bukalah dadamu.
jurang kehidupan menganga menunggumu namun kami disini siap membantu.

hadapi dunia berani, kawan.
tinggalkanlah muram hitam, desak diri hingga tujuan.

dunia belum henti, teman, begitu juga mimpi kita.
kutunggu kau di akhir perjalanan ini teman, dalam indahnya perjuangan, dalam manisnya puncak keberhasilan

Tuberculosis : Kesuksesan dalam Keterbatasan

Tulisan kali ini adalah sebuah inspirasi saya ditengah-tengah mepetnya tugas karya tulis untuk Olymphiart2012, yang bertemakan “Penyakit Endemik”. Untuk tema ini, pilihan saya jatuh pada Penyakit Tuberculosis.

                Tuberculosis (TB) adalah sebuah kesuksesan. Tuberculosis, dari sisi yang jarang dipandang, adalah cerminan pribadi sukses dalam proses maupun hasil. Ga percaya ? Buktinya, hingga saat ini sudah ada sekitar 8.8 juta jiwa terkena TB, dimana 1.1 juta jiwa meninggal meski negatif HIV, dan 0.35 juta jiwa meninggal dengan TB sekaligus HIV. Ya, TB dapat dibarengi oleh HIV juga. Meski begitu, insidensi (kasus baru) TB cukup menurun semenjak 2006. Penurunan itu dibarengi juga dengan peningkatan biaya penanggulangan TB dunia, dari “hanya” 3.5 miliar dolar Amerika pada 2006 hingga 4.4 mliar dolar amerika tahun ini, 2012. Dan kemungkinan berkembang juga besar, sekitar 0.6 miliar dolar amerika pengeluaran yang dapat bertambah. Sungguh jelas, TB adalah masalah yang nyata untuk manusia, dan TB adalah Superstar di kalangan penyakit-penyakit yang ada di dunia.

                Terbersit sebuah pertanyaan, sebenarnya, apa sih rahasia sukses Tuberculosis ?
                Jawabannya gampang,”totalitas dan tidak menyerah sampai akhir, push to the limit”, seakan seperti wejangan-wejangan training motivasi, begitu TB menjawabnya.

                TB, seakan sebuah perusahaan dengan marketing yang baik, menyebar dengan cara yang paling mudah menjangkau semua “calon pelanggannya”. TB menyebar via udara dari batuk, bersin, dan nafas penderita yang telah terinfeksi TB. Jadi, bagi negara-negara endemik TB, hampir semua orang telah terinfeksi. Lantas, harusnya setiap orang di negara endemik terinfeksi dan memiliki gejala TB dong ?

                Untuk hal ini, kita harus berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kita tubuh maha sempurna. Kerja keras sebuah sistem tanpa balas jasa, “sang penjaga” bernama sistem imun yang didalangi dari molekul yang tak kasat mata seperti antibodi yang melawan antigen asing, makrofag yang tanpa pandang bulu menelan bulat-bulat ambisi dan jasmani bakteri, hingga bulu hidung dan sel-sel rambut (cilia) pada tengorokan kita. Dengan kekebalan laksana dewa, seharusnya TB bukanlah masalah bagi umat manusia. Namun faktanya, meski ada sistem kekebalan tubuh, 10% pasien yang terinfeksi langsung menjadi penderita TB.
                Meski hanya 10% yang menderita langsung, bukan berarti kita dapat bersenang-senang. Tanpa kenal menyerah, TB terus menghantui, menunggu kelengahan dalam sunyi seraya terus berlindung dan memperkuat diri. Hingga datanglah sebuah kesempatan, yakni saat imunitas turun (immunosupressive patient), sempurna tanpa kesalahan, TB kan menginfeksi secara nyata dan menimbulkan gejala. Keringat dingin di malam hari, batuk bahkan hingga berdarah, nyeri dada, dan demam yang terjadi lebih dari 3 minggu adalah gejala-gejala utama.
                Dalam penglihatan mikroskopik, saat TB berdormasi seperti tadi, ia tidak hanya diam dan tanpa tujuan. Aliran darah adalah dunia yang keras. Imunitas terus menghantui tanpa istirahat. Belum lagi pihak lain, radikal bebas yang selalu merusak siapapun, tubuh maupun zat asing yang tak terhankan oleh pelindung apapun. Maka apabila tetap bertahan dalam aliran darah tanpa perlindungan, maka dipastikan TB kan hilang dari peradaban.

                Dalam kondisi kritis, meski dalam pengetahuan manusia sel itu tidak punya “otak”, namun entah kenapa sel TB mampu berpikir untuk beradaptasi. Sel yang berukuran mikrometer, yang menegur pemilik otak yang jauh lebih besar namun tak mampu efisien berpikir. TB mencari sebuah sel bernama makrofag. Makrofag seharusnya adalah salah satu polisi tubuh yang menelan dan menghancurkan zat asing. Dan para warga tubuh asing (WTA) harusnya menghindari makrofag dengan berbagai macam mekanismenya. Namun TB, membantah segala kemungkinan, mencari makrofag dengan gagah berani meski bukan untuk melawan. Saat telah bertemu, dengan sigap makrofag kan melakukan gerakan untuk memakan. Namun TB yang tak kalah sigap melakukan sebuah manuver pada reseptor/penerima pada membran sel markofag. Menempelkan reseptornya ke reseptor makrofag. Tak menghentikan gerakan memakan dari makrofag memang, namun apa yang terjadi setelah TB benar-benar dimakan ? ia bertahan dalam kungkungan makrofag. Ia terus hidup dan mekanisme penghancuran oleh makrofag yang biasanya mampu meluluhlantakkan berbagai macam banteri yang jauh lebih berbahaya kini seakan tak berdaya.

                Dalam kungkungan, makrofag semakin gencar dan produktif. Ia ber-replikasi, memperbanyak diri dengan cara membelah sel sendiri. Terus bersiap dengan produktifitas tinggi. Dan karena telah berada dalam makrofag, TB tak perlu takut lagi dengan serangan radikal bebas dan imunitas dalam aliran darah, karena kini ia telah memiliki sebuah benteng yang tak terlihat, tak terkenali, aman dalam sunyi.

                Suatu saat, ketika telah cukup menghasilkan banyak sel, TB kan keluar dan pecah hingga menginfeksi tak hanya paru-paru saja bahkan juga sumsum tulang belakang dan otak hingga menyebabkan kematian.

                Jikalau begitu, maka kenapa tak dihambat saja reseptor TB atau reseptor makrofag ? hal ini telah dipikirkan oleh ilmuwan, mereka coba hambat beberapa reseptor yang telah diketahui seperti Complement Receptor (CR) dan mannose receptor (MR). Namun, apa yang terjadi ? TB tetap menemukan reseptor lain untuk tetap membentengi diri dengan makrofag. Semangatnya seakan pemuda yang ambisius, akalnya seakan cendekia yang bijaksana, dan totalitasnya seakan air terjun yang tak henti-hentinya.

                Sungguh, pada sebuah makhluk yang maha kecil, tanpa otak, tanpa kesempurnaan sel seperti manusia, tanpa banyak fasilitas dan manfaat mampu menghasilkan kesuksesan dengan segala keterbatasan. Pramoedya A. Toer, Buya Hamka, M. Hatta dan banyak orang besar lainnya juga pernah dipenjara, dibuang dan diasingkan. Namun justru karya mereka tak terhenti. Beberapa bahkan bersinar namanya dari balik jeruji. Hingga saat ini, karya itu terus jadi kenangan manis yang tak hanya mereka yang mengingatnya, tetapi juga ratusan hingga ribuan jiwa hingga saat ini. Meninggalkan nama dan karya. Dan sesungguhnya, seorang dinilai dan diingat akan apa yang dikaryakannya. Dan berkarya, tak mengenal tempat, situasi, dan jabatan. Semua wajib berkarya dalam setiap hal yang kita bisa lakukan. Yang membedakan pemimpin dan penguasa adalah, pemimpin, saat iya memegang kekuasaan, ia berkarya. Saat ia tak lagi berkuasa, ia tetap berkarya. Namun penguasa hanya berkarya saat ia berkuasa.



Fajar Faisal Putra
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran 2010

Ini Kompetisi, Bung !

"Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al Hujurat:10)

“Tidaklah dua orang muslim berjumpa, lalu keduanya berjabat tangan, kecuali keduanya diampuni sebelum keduanya bepisah.” (H.R. Abu Daud)


Persaudaraan, dalam bahasa Arab terambil dari kata “Ukhuwah”, yang akar katanya berarti memperhatikan. Makna asal ini mengesankan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.

Boleh jadi persaudaraan itu berasal dari sebuah persamaan. Persamaan keturunan, suku, agama, profesi, perasaan, menjadikan makna ukhuwah lebih luas lagi.

Persamaan adalah faktor penunjang lahirnya persaudaraan. Semakin banyak persamaan maka akan semakin kokoh persaudaraan. Persamaan cita dan rasa biasanya menjadi faktor dominan persaudaraan yang hakiki, hingga pada akhirnya bahkan mampu menjadikan seseorang dapat merasakan penderitaan saudaranya, mengulurkan tangan tanpa diminta, dan memperlakukan saudaranya bukan atas dasar untung rugi, tapi,
“Mengutamakan orang lain atas diri mereka, walau diri mereka sendiri kekurangan” (QS Al-Hasyr [59]: 9).


Persaingan yang ada bukanlah alasan untuk berpecah. Hakikatnya, setiap muslim itu bersaudara. "Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi atau syuhada'. Para nabi dan syuhada' iri kepada mereka. Ketika ditanya para shahabat, Rasulullah menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah dan saling kunjung karena Allah."

Persaingan adalah salah satu cara untuk menguatkan kelompok. Perhatikanlah saat Timnas Indonesia bertanding melawan musuh-musuhnya, Gelora Bung Karno dibanjiri kaos merah, rata tanpa beda. Yang dulunya mengaku “the jack”, “Viking”, “Bonek”, dan banyak lainnya berjabat bersatu dalam teriakan ”Indonesia!”. Tidak peduli kaya miskin, tua muda, dari Aceh sampai Papua punya hak yang sama untuk satu.
Untuk berpecah itu mudah. Siapapun bisa lakukannya. Namun untuk bersatu, terkadang menahan nafsu yang menggebu, meredam amarah yang berkecamuk, merendahkan hati melapangkan dada, maka hanya mereka yang bermental baja yang bisa. Ini kompetisi, Bung ! Namun bukan hanya manusia yang kita lawan. Sesungguhnya ini kompetisi melawan nafsu dan setan yang ada dalam diri. Dan sungguh, saat telah melakukan yang terbaik, maka terimalah hasil yang didapat. Bukankah itu hakikat sportifitas ? Relakah menodai seluruh usaha hanya untuk seberkas harga diri ?

"Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana." (Al Anfaal:63)

Persaudaraan tidak bisa dibeli. Persaudaraan adalah sebuah kewajiban yang harus diamalkan dan dipelajari.
Dari Jubair Ibnu Muth'im Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yaitu pemutus tali kekerabatan."

Tulisan ini juga dimuat dalam Buletin Mediastinum KAMI Asysyifaa' FK Unpad


Fajar Faisal Putra
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Mengeluhkan keadaan atau Menaklukan Zaman

28 Maret 2012

Perjalanan yang seakan stagnan. Masih saja hati berdebat akan amanah yang didapat saat ini. Pertanyaan hanya satu, Pantaskah ? Begitu banyak insani berada disini, kenapa aku ? Banyak yang lebih paham, banyak yang lebih mengerti.

Yang aku tidak suka dari berpolitik adalah, adanya sebuah kediktatoran, adanya sebuah otoritas yang seakan-akan sebuah hasil pemikiran bersama. Ya, itu politik. Sebuah pemikiran hasil pendapat bersama, begitu filsuf Yunani mendefinisikannya. Pemikiran bersama itu, tanpa bertanya, tanpa analisa yang valid, dengan sesukanya menempatkanku pada sebuah tempat yang aku tak pernah tahu sebelumnya, tak pernah dambakan sebelumnya, tak pernah bersiap sebelumnya, bahkan tak pernah peduli sebelumnya.

Sungguh, komunikasi adalah sarana dan kemampuan penting dalam menjalankan umat. Bahkan, sebuah intervensi tanpa "persetujuan" terlebih dahulu adalah kezaliman. Saat mengobati, atau melakukan prosedur medis, informasi yang lengkap dan jelas wajib disampaikan, mulai dari alasan, dampak, resiko, alternatif, bahkan kemungkinan hasil. Ini yang tak pernah kudapatkan.

Dan sayangnya, setelah otoritas itu bermain, ada sebuah motif yang berbunyi "amanah itu dilarang untuk ditolak".

Ya. Seakan putusan bersama itu haram untuk ditolak.

Satu lagi kesalahanku adalah, aku tak menolak. Mungkin karena popularitas, jabatan, eksistensi, martabat dan segala godaan kejayaan lainnya yang berkecamuk, saat hal lain yang kuimpikan pupus.

Sekali lagi, seakan ditanya,"sebenarnya apa yang kau cari ?"

Sungguh bingung, jengkel, dongkol, dan sesal terus membara.

Tapi, apa hendak dikata. Roda kehidupan kan terus berputar, tak peduli sebesar apapun aku mengeluh, selama apapun aku gusar, dan sepedih apapun aku gundah. Pemuda-pemudi hebat diluar sana kan tetap berprestasi meski aku terpuruk disini.

Ada tugas yang harus diselesaikan. Ada zaman yang harus ditaklukan. Ada manfaat yang harus diberikan. Dan ada karya yang harus terus dihasilkan.

Seberat apapun, cobalah dipikul. Berhenti sejenak jika lelah. Bukankah hidup ada perhentian ? Tak harus gencar terus berlari.

Sesulit apapun, cobalah sabar menghadapi. Tak tahu maka cari tahu.
"Hidup ini seperti mendorong mobil di tanjakan. Godaan untuk berhenti itu memang kuat. Namun sekalinya berhenti, maka mobil itu kan meluncur hingga dasar. Bisa hancur. Atau bisa melindas kita yang mendorongnya. Cara terbaik adalah terus mendorong hingga puncak. Doronglah meski hanya beberapa sentimeter. Tak peduli selambat apapun, asal kita tak berhenti. Dan rasakanlah indahnya pemberhentian, dari puncak kehidupan nanti." - Handry Santriargo, orang Padang, berkursi roda, penderita Hodgkin Lymphoma, CEO General Electric pertama yang orang Indonesia.

Memang terkesan 2 konsepan ini kontradiktif. Namun keduanya sebenarnya konstruktif. Mental pejuang, dengan logika "mendorong mobil di tanjakan" harus terus dikobarkan kapanpun dimanapun. Tetapi, sebagai manusia yang memiliki fisik yang tak sempurna, ada saatnya kita berhenti sejenak. Berhenti untuk melangkah lebih jauh lagi. Berhenti menyediakan tenaga dan semangat yang lebih besar lagi.

Lalu, jurus terakhir ialah kepekaan, kemampuan menganalisa dari yang kecil.

Singa atau Harimau mungkin dapat membunuh 2-3 orang. Namun sebuah virus kecil dapat membantai jutaan nyawa.

Bukanlah batu besar yang dicemaskan pejalan, tetapi kerikil kecil tak tampak yang mampu menjatuhkan bahkan menghentikan perjalannanya.

Setelah menerima takdir, lalu bermotivasi dengan mentalitas baja menghadapinya, maka selanjutnya jangan lupa analisa kemungkinan yang kan terjadi.

Tetaplah termotivasi, tetaplah terinspirasi, dan siaplah menjadi inspirasi.



Fajar Faisal Putra
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Ke eF-Ka Unpad, Apa Yang Kau Cari ? (1)

wa-idzaa massa al-insaana aldhdhurru da'aanaa lijanbihi aw qaa'idan aw qaa-iman falammaa kasyafnaa'anhu dhurrahu marra ka-an lam yad'unaa ilaa dhurrin massahu kadzaalika zuyyina lilmusrifiina maakaanuu ya'maluuna
[10:12] Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo'a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo'a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.



Terinspirasi dari sebuah film, berjudul Negeri 5 Menara, yang shootingnya dilakukan disebuah pondok pesantren yang terkenal seantero Indonesia. Pondok Madani Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. 


Dalam film itu, di sebuah gedung tertera sebuah tulisan besar yang dapat terlihat dan terbaca oleh mereka yang melewatinya meskipun dari jauh, tertulis, "Ke Gontor, Apa yang kau cari ?"


Bandung adalah tempat yang jauh. Apalagi Jatinangor. Sebuah tempat yang belum pernah terdengar gaungnya di tempat asalku, Padang. Saat datang kesini, jutaan mimpi terpikirkan, ribuan ambisi ingin dicapaikan, dan ratusan cita disematkan. Ingin itu, ingin ini banyak sekali. Ya, sejatinya, aku benar-benar ingin menjadi seorang dokter yang berbeda.

Mulanya, aku terinisiasi menjadi seorang dokter yang cinta daerah. Sungguh begitu banyaknya dokter di kota besar dan kenapa mereka tak ingin mengabdi di daerah ? 

Rezeki kah ? 

"Gaji memang dari pemerintah, tapi rezeki tetap dari Allah" - dr. Nurmatani Sp.PK September 2011, OPPEK Megakaryocyte FK Unpad.

Ya, seharusnya tidak usah meragukan rezeki yang kan didapat. Menurut pendapatku, saat menjadi dokter di daerah, harusnya bisa mendapatkan penghasilan yang lebih. Kenapa ? karena saat di daerah, anda menjadi dokter yang spesial. Dokter yang hampir selalu jadi pilihan utama. Dan saat ini berkembang otonomi daerah yang memungkinkan daerah dapat lebih berkembang lagi dan lebih maju dengan kemandiriannya mengatur daerah sendiri. Daerah yang semakin berkembang seharusnya jadi incaran untuk dokter-dokter baru, kalau memang tujuannya materi. Kompetitor yang sedikit juga jadi bantuan untuk dokter-dokter tersebut. Bayangkan jika seorang dokter baru harus bersaing dengan puluhan bahkan ratusan dokter yang bahkan tingkatannya telah menjadi profesor atau yang terbaik dibidangnya. Dalam teori Ekonomi, jelas bahwa dengan     diri yang masih inferior dihadapkan kompetitor yang selain kuantitasnya besar juga kualitasnya tinggi harusnya meninggalkan lapangan pertarungan itu. 

Lihat apa yang ditawarkan daerah, kuantitas kompetitor yang kecil, kualitas yang merata, serta penawaran fasilitas dari pemerintah daerah. Untuk sebuah daerah di Sumatra, untuk menarik dokter-dokter khususnya spesialis datang ke daerah, maka PEMDA setempat menyediakan fasilitas mobil dinas yang terbilang mewah, rumah dinas yang nyaman, dan walhasil, lihat sendiri jika tidak percaya, seorang dokter yang pada awalnya datang dengan mobil pinjaman orang tua, setelah 1-2 tahun telah bermobil lima. Ini Fakta. 

Baik, rezeki terselesaikan. Lantas, apa lagi yang membuat mereka alergi dengan permai dan asri-nya daerah yang tentu masih alami serta jauh dar pengaruh emisi. Fasilitaskah ?

Otonomi daerah, seperti yang telah diutarakan diatas, menjadikan daerah ibarat sebuah "negara berkembang", yang disana kaya alamnya, berkembang manusianya, dan lapang lahan kerjanya. Perkembangan ini memang bersifat relatif, bergantung pada putra asli daerah yang tentunya menjadi pemegang tampuk kepemimpinan. Namun, dalam pengamatan pribadi, paska otonomi, dalam 5 tahun sebuah rumah sakit yang awalnya bergantung pada pemerintah seutuhnya, dapat menjadi rumah sakit Swadaya. 7 tahun berikutnya, mempermegah diri dengan fasilitas mumpuni dan bahkan menyaingi rumah sakit provinsi tipe B. Dan saat ini, dokter spesialis berebutan ingin bekerja disini. Fasilitas ? Biar waktu yang menjawabnya.

Dengan jadi dokter yang rela mengabdi didaerah, kita juga bisa mendapatkan kemampuan yang lebih. Dokter di daerah dapat setingkat dokter spesialis. Dokter spesialis dapat setingkat dokter subspesialis. Perawat dapat setingkat dokter. Dan bidan dapat setingkat dokter spesialis kandungan. Ya, keterbatasan mengajarkan mereka. Saat keadaan darurat, maka mau tidak mau, keputusan harus diambil. Tindakan harus dilakukan.

Dengan jadi dokter di daerah, kita sekaligus dapat menjadi community developer, yang bisa mendorong berkembangnya masyarakat dan daerah tersebut. Kita dapat menjadikan rumah sakit sebagai pengembang khususnya dalam hal kesehatan. Setelah kesehatan diraih, produktifitas daerah dapat membaik juga. Yang berujung pada produktifitas bangsa. Jadi artinya, tenaga kesehatan adalah salah satu titik awal untuk memajukan bangsa. 

Bandung, 8 Juni 2010, seorang anak muda dari daerah seberang, membuat pergolakan besar dalam hidupnya. Dalam sebuah rumah makan Padang, dengan kegalauan, setelah diterima di 2 Fakultas Kedokteran di Indonesia, Universitas Andalas dan Universitas Padjadjaran, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, anak itu memilih meninggalkan zona nyamannya. Anak itu memilih menantang dunia, mendaki puncak tantangan, menerjang kerasnya karang kehidupan, menggoda mara bahaya, dan menaklukan malam dengan jalan pikiranku. Aku ingin mencari jalan atas semua keresahan-keresahan dan kegelisahan manusia. Aku ingin menghirup rupa-rupa pengalaman dan terjun bebas menyelami lautan kenangan. Aku ingin ke tempat yang jauh, menjumpai bahasa yang tak kukenali dengan budaya tak ku ketahui. Berkelana membaca bintang gemintang, mengarungi padang kesabaran, gurun kehidupan, limbung diterpa angin, melepuh dijilat matahari, menciut dicengkram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan. Aku ingin bermimpi dalam hidup, bukan hidup dalam mimpi ! Aku ingin memecahkan teka-teki yang tak satu setanpun tahu. 

"Aku ingin jadi seorang dokter yang mengabdi pada daerah. Dokter dengan efektifitas mendekati sempurna. Dokter yang totalitas menolong pasiennya tanpa diskriminasi, menolak ketidakadilan dan ego dalam hati. Dokter yang menjawab kegelisahan orang-orang malang diluar sana. Aku ingin jadi dokter tidak hanya terkembang otaknya namun juga hatinya. " Aku ingin jadi dokter. 

Langit Soekarno Hatta yang begitu cerahnya, terus kumimpikan dalam setiap kesempatan. Malam yang dingin dan tumpukan buku ladang ilmuku, menemani tiap malam perjuangan di beranda kamarku. Terus berpikir, bahwa saat ini, seluruh siswa kelas 3 SMA di Indonesia adalah sainganku. Mereka tentu belajar lebih banyak dan lebih baik. Semangat itu terus mendorong hingga tercapailah salah satu mimpi itu. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Mimpi, aku datang !

Namun, semua berubah ketika fakultas kedokteran lambat laun datang menyentuhku, menyebarkan pengaruhnya tanpa kusadari.  (bersambung)

Tuhan Menegurku dengan Cukup Sopan

22 maret 2012

Tepat 2 hari setelah sebuah kejadian yang mengguncang batinku. Ya, 2 hari yang lalu, hampir saja kurenggut masa depan seorang anak. Dua hari yang lalu, 16.00 WIB, kecelakaan menimpaku dan anak itu. Benang merah kehidupan mempertemukan kami dengan cara yang tak biasa. Skenario tuhan tak pernah dapat kutebak. Dan yang tersisa kini adalah sebuah kenangan dan kedewasaan. semoga.

Hari itu, 20 maret 2012, matahari seakan lebih lambat bergerak dibanding biasanya. Angin bertiup kencang  menghela dedaunan yang meranggas dan berjatuhan di bumi. Langit berhiaskan kumpulan cumulonimbus tebal meski belumlah tetesan air membasahi. Hari bermula lebih lambat, karena hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu setiap inci badanku. Hari untuk beristirahat. Tak ada kuliah. Tak ada agenda organisasi. Dan tak lagi ada karya tulis yang menghantui 2 minggu belakangan. 

Tepat pukul 15.00 wib, badan yang puas bersandarkan nyamannya guling dan bantal ini mulai beranjak bangun meninggalkan pangkuan kasur. Terlupa sebuah hal, ternyata hari ini adalah jadwal latihan minisoccer liga medika 2012. 

Kemudian pukul 16.00 wib, dengan mata telah cukup terbuka, kupaksakan badan menempuh jalan. Dengan sebuah kendaraan pinjaman orang tua, dengan hati-hati kukeluarkan dari gerbang rumah kosan. Dipandu bapak kosan yang senantiasa memberhentikan kendaraan dari sisi jalan, mengangkat tanggannya bermaksud menghentikan kendaraan-kendaraan lain yang sedang melaju, dan mengayunkan tangannya yang lain mengisntruksikanku melajukan kendaraan juga mengambil jalan. Pelan-pelan, kulajukan, dan saat hampir seluruh tubuh mobil mendapatkan jalan tiba-tiba sebuah motor melaju kencang dari arah samping kiri. Selazimnya pengendara motor, saat memiliki sedikit celah, berusaha untuk push to the limit untuk memaksimalkan celah itu. Terkejut, langsung kuhentikan laju mobil yang memang sudah pelan itu. Namun apa hendak dikata, pengendara motor yang sedang melaju telah terlambat untuk memaksimalkan remnya, dan dengan sedikit mengelak, namun akhirnya terkena juga, menyerempet sedikit sisi kiri bemper mobil yang kukendarai. 

Lantas, pengendara dan penumpangnya yang malang terjatuh dan sedikit terlempar. Kemudian langsung kuselamatkan mereka, kubawa ke tempat aman, dan kuusahakan pertolongan pertama. Ya, aku tahu itu memar. Aku tahu kulit yang sedikit tersobek. Aku juga tahu gigi yang patah. Aku tahu seluruh penanganannya,  aku tahu teknik membersihkan luka, menjahit luka, debridement, dan menghentikan pendarahan. Tapi apa yang aku tidak ketahui adalah bagaimana caranya mendapat izin dari anak itu. Berbulan-bulan sudah aku belajar di Sebuah institusi yang megah dan ternama, namun itu semua tak berguna sore itu. Sebuah konflik batin berkecamuk dalam hatiku yang pilu, apa sebenarnya yang telah kupelajari selama ini ? Bemanfaatkah ?

Setelah beberapa lama, dia setuju akhirya untuk dibawa ke Puskesmas dan mendapatkan pelayanan medis. Namun dengan permintaan keluarganya, ia menginginkan dibawa ke sebuah rumah sakit swasta di Kawasan Jatinangor. 

Setelah mendapatkan beberapa perawatan medis, akhirnya ia pulang. Bapak penjaga kosan senantiasa menemaniku semenjak kecelakaan hingga kini. Ia menghubungi teman-temannya yang kiranya dapat membantuku. Bapak pemilik kosan juga telah mengetahui kejadian itu, dan menghubungiku serta senantiasa berniat membantu. 

Bapak penjaga kosan, adalah seorang lelaki yang tak cukup tinggi, tak juga cukup rendah. Sunda 100 persen asli, dan dengan kebaikan yang tak pernah kutemukan di perantauan ini sebelumnya. 

Dengan tenang, beliau terus menemani sembari menenangkanku. Sekilas, terbersit sebuah pemikiran dalam kepalaku, kenapa ia rela membantu ? Saudara bukan, anak bukan, bahkan kami hanya kenal baru beberapa bulan. Dan sebagai penghuni kosan, jelas kehadiranku amatlah tidak stabil. Siapa yang tahu aku akan tetap disana ? 

Saat itu, aku sebelumnya telah ditimpa musibah juga, kartu ATM yang selama ini menjadi penghubung dengan orang tua dikabarkan hilang. Dengan keterbatasan, keputusan membawa anak ini ke rumah sakit adalah keputusan yang nekat menurutku. Namun, sekali lagi, dengan hati seluas lautan, Bapak penjaga kosan meminjamkanku sejumlah uang untuk pegangan. 

Tak sampai disana, ia pun terus menemani hingga proses negosiasi yang berlangsung di rumah anak itu, setelah kami selesai di Rumah sakit. Hingga telah larut kami sampai kembali pada tempat kembali kami. 

Sesampainya di kamar, terus terpikirkan olehku kejadian beberapa saat lalu. Aku adalah orang yang bermimpikan ketegasan, mengidolakan keadilan, dan berlandaskan kebenaran. Puith selalu kukatakan putih. Dan hitam kukatakan hitam. Tak ada anu-abu dalam kamus kehidupanku. Untuk mencari kebenaran, aku rela berperang urat saraf dan beradu teriakan dengan siapapun. Salah adalah salah, benar adalah benar. Saat negosiasi berlangsung, sebuah paradoks muncul dalam kepalaku, dalam setiap kronologis yang  terpikirkan olehku, sudahlah jelas ini adalah salahnya. Sudahlah jelas, aku seharusnya mendapatkan maaf darinya, seorang anak muda kelas 2 SMA, yang seharusnya belum boleh mendapatkan SIM dan mengendarai kendaraan bermotor. Jiwa keadilan terus berkecamuk, ibarat gunung api yang menunggu erupsi. Dia salah, aku benar. Terus-menerus berulang, setan meneriakkan itu dalam hatiku.

Namun, teringat sebuah kata mutiara dari seorang ulama besar, yang berbunyi, 

"Hujjah dan argumentasi bisa saja membungkam lawan, tetapi belum tentu dapat memuaskan, bisa menjadikan orang terdiam,  tetapi belum tentu menjadikan hati dan pikiran mau mematuhinya. Perbedaan bisa menjadi tak berguna. Dialog dan diskusi hanya membuang tenaga dengan sia-sia. " - Sayyid Quthb

Ucapan ini mendiamkan amukan emosi, menentramkan hati, dan menjernihkan kemelut dalam diri. 

Kedewasaan adalah pilihan. Menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa bergantung hati. 

Musibah, bukanlah azab. Musibah adalah pembelajaran bagi manusia untuk mengasah kesabaran dan kekuatan mental. Juga sebagai bentuk kasih sayang Allah pada hambaNya, agar tidak melupakan kedudukan seorang hamba dan tidak menyombongkan diri. Musibah sejatinya adalah batu asahan untuk menajamkan iman. Musibah adalah pengetahuan dan pengalaman. 

Kebahagiaan dan musibah ibarat 2 sisi mata uang. Mereka adalah kekasih sejati yang tak terpisahkan. Ibarat anak panah yang mengarah keatas pasti akan kembali kebawah. 

Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka bekasnya
Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama
Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa
Semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan
 

Kamus besar Bahasa Indonesia mendefinisikan musibah dengan :

mu·si·bah n 1 kejadian (peristiwa) menyedihkan yg menimpa: dia mendapat -- yg beruntun, setelah ibunya meninggal, dia sendiri sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit; 2 malapetaka; bencana: -- banjir itu datang dng tiba-tiba 

Namun, menurutku musibah adalah kejadian yang mendewasakan, pelatihan kesabaran, ujian keimanan dan rentetan mozaik kehidupan dalam susunan pengalaman seorang hamba yang akan dipertanggungjawabkan pada Tuhan. 

Ia mengejutkan, tak terduga, rawan untuk salah disikapi, dan ia teguran dari Tuhan.



Fajar Faisal Putra
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran 2010