Soal Hikmah, Soal Hati

Pada setiap kejadian dalam hidup manusia, ada porsi-porsi bagi manusia lain untuk dapat membuat manusia makin mendekatkan diri lagi pada Allah. 
Setiap kejadian. InsyaAllah.

Itu namanya hikmah.

Namun kadang hikmah tak kita terima dalam bentuk; ceramah nan menggugah; tulisan nan indah; atau nasehat yang mengubah.

Kadang bentuknya berbeda. Kadang ia tersembunyi dalam hal yang membuat kecewa. Kadang ia tersembunyi dalam teguran yang memicu amarah di dada. Kadang berupa sikap yang tak enak hati jadinya.

Maafkanlah hati manusia, karena kadang tak siap menerima takdirNya.

Tapi bila pemahaman bahwa setiap hal ini terjadi atas kehendakNya, maka entah bagaimanapun bentuknya, bahkan bilapun sampai akhir nanti kita belum temukan juga hikmah atas berbagai kejadian dalam hidup kita, insyaAllah hati bisa tetap tenang.

"Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki dan memberi petunjuk orang yang bertaubat kepadaNya, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." Qs Ar Rad : 27-28

Keimanan, bisa kita pelajari dari kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa A.s. Kita insyaAllah tahu bagaimana kisahnya, Nabi Musa A.s yang belajar pada Nabi Khidir dengan prasyarat bahwa segala tindakan Nabi Khidir tak boleh dipertanyakan apalagi ditolak. Kita mungkin ingat ada peristiwa membunuh, ada pengrusakan kapal, dan ada pembangunan rumah. 

Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khidir menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk bertanya kepada Nabi Khidir. 
Setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidir tersebut membuat Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir kembali mengingatkan janji Nabi Musa, dan dia diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidir, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir.Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu wilayah perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir malah menyuruh Nabi Musa untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa tidak kuasa kembali untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir ini yang membantu memperbaiki tembok rumah setelah penduduk menzalimi mereka. 

Nabi Khidir, telah dikaruniai oleh Allah pengetahuan. Sehingga tahu bahwa semua hal yang dilakukannya ada hikmahnya. 

Kejadian pertama adalah Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya.
Kejadian yang kedua, Nabi Khidir menjelaskan bahwa dia membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya.
Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya.

Sedang Nabi Musa A.s belumlah dikaruniai oleh Allah pengetahuan itu. Maka sikap terbaik adalah berhusnudzan bahwa ini semua ada hikmahnya. Ada alasan dibalik semua tindakan Nabi Khidir. Namun kadang, laiknya manusia mulia itu, belum tentu bisa bersabar untuk mengetahui hikmah-hikmah tersebut. Hati kecil kita bertanya-tanya pada hal-hal yang kadang diluar rasionalitas dan logika. Hati kecil kita, mempertanyakan semua yang terjadi kenapa tak seperti seharusnya. 

Maka bertaubatlah, perkuatlah iman kita. Agar kita benar-benar sadar bahwa semua hal pasti ada hikmahnya. Agar pernyataan barusan tak hanya sekadar kata-kata saja namun mengejawantah menjadi perbuatan. 

Iman itu, dibenarkan oleh hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan.

Oleh karena itu, pada setiap hal yang terjadi pada hidup kita, kita sejatinya diberi pilihan untuk tetap tenang dan sabar. Maka harusnya kita berterima kasih pada setiap manusia, bersyukur pada setiap kejadian, karena ada kesempatan untuk makin mendekatkan diri lagi pada Allah. Kesempatan untuk menambah keimanan. 

Pun untuk hati kita, do'a insyaAllah tiga hakikatnya. Terkabul, tertunda, atau diganti jadi yang lebih baik. 

Pun kejadian, insyaAllah tiga juga hakikatnya. Ujian, cobaan dan azab. 

Ujian, ditujukan untuk mereka yang shalih, mereka yang terjaga. Allah menghendaki mereka menjadi lebih baik lagi, karenanya perlu diuji agar naik tingkat. 

Cobaan, ditujukan untuk mereka yang bukanlah paling baik, namun bisa jadi ada hal-hal kurang baik yang butuh diingatkan, butuh ditegur. Allah masih sayang pada mereka jadi Allah ingatkan agar tak terjerumus pada hal-hal yang tidak baik. 

Sedang Azab, ditujukan untuk mereka yang telah melakukan hal-hal yang amat tidak baik, karenanya perlu diturunkan hukuman. Namun, bisa jadi hukuman ini sifatnya memberi pelajaran.

"Dan sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (didunia) sebelum azab yang lebih besar (diakhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)." Qs As Sajdah : 21

Semoga hati-hati kita dapat tenang dan tentram akan takdirNya, Aamiin ya rabbal'alamin. 

Bandung dua puluh empat Desember dua ribu lima belas


Termasuk Tarbiyah (Bimbingan) Alloh Kepadamu"

oleh Dr. Taufiq Ar Raqb

Alloh mempunyai banyak cara dalam mentarbiyah (membimbing) hamba2-Nya


من تربية الله لك (1)...
قد يبتليك الله بالأذى ممن حولك حتى لا يتعلق قلبك بأي أحد لا أم ولا أب لا أخ ولا صديق، فيتعلّق قلبك بهِ وحده


1) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
Terkadang Allah mengujimu dengan gangguan dan sesuatu yang menyakitkan dari orang disekitarmu, sampai hatimu tidaklah bergantung kepada siapapun. Tidak kepada ibu, bapak, saudara, dan teman. Akan tetapi, hatimu bergantung kepada-Nya saja.


من تربية الله لك (2) ...
قد يبتليك ليستخرج من قلبك عبودية الصبر والرضى وتمام الثقة به هل أنت راض عنه لأنه أعطاك؟ أم لأنك واثق أنه الحكيم الرحيم؟


2) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
Terkadang Dia mengujimu dengan tujuan menampakkan dari hatimu ibadah kesabaran, ridha, dan percaya diri kepada-Nya. Apakah kamu ridha kepada-Nya dikarenakan Dia telah memberimu? Atau dikarenakan kamu percaya, bahwa Dia adalah Zat yang penuh dengan hikmah (dalam segala kehendak dan perbuatannya) lagi Maha Penyayang ?


من تربية الله لك (3)...
قد يمنع عنك رزقا تطلبه لأنه يعلم أن هذا الرزق سبب لفساد دينك أو دنياك، أو أن وقته لم يأت، وسيأتي في أروع وقت ممكن


3) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
Terkadang Dia mencegah darimu rezeki yang kamu minta, sebab Dia tahu bahwa sesungguhnya rezeki tersebut akan menjadi penyebab rusaknya agama atau duniamu. Atau, waktunya belum tiba dan akan tiba pada saat terbaik yang memungkinkan.


من تربية الله لك (4) ...
قد ينغص عليك نعمة كنت متمتعاً فيها لأنه رأى أن قلبك أصبح "مهموما" بالدنيا فأراد أن يريك حقيقتها لتزهد فيها وتشتاق للجنة


4) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
Terkadang Dia tidak memberikanmu kenikmatan dengan sempurna, yang kamu telah nikmati. Sebab, Dia melihat bahwa hatimu telah menyukai dunia, lalu Dia berkehendak memperlihatkan padamu akan hakikat dunia, agar kamu dapat zuhud, memandang rendah pada dunia dan merindukan surga.


من تربية الله لك (5)...
أنه يعلم في قلبك مرضاً أنت عاجز عن علاجه باختيارك.. فيبتليك بصعوبات...تخرجه رغماً عنك تتألم قليلاً...ثم تضحك بعد ذلك


5) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
Sesungguhnya Dia mengetahui penyakit di hatimu yang kamu tidak mampu mengobatinya sesuai dengan kemauanmu, lalu Dia mengujimu dengan kesulitan-kesulitan yang semuanya itu akan mengusir penyakit tersebut walaupun kamu merasakan sedikit sakit dan pedih, namun kemudian kamu akan tertawa setelah itu.


من تربية الله لك (6)...
أن يؤخر عنك الإجابة حتى تستنفد كل الأسباب وتيأس من صلاح الحال ثم يُصلحه لك من حيث لا تحتسب حتى تعلم من هو المُنعم عليك


6) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
(Terkadang) Dia menunda terkabulnya doamu sehingga kamu menghabiskan segala sebab dan usaha (untuk mewujudkan harapan dan cita-cita) dan kamu berputus asa dari keadaan yang baik, namun kemudian Dia memperbaiki keadaanmu dari sekiranya kamu tidak menyangkanya, sehingga kamu mengetahui bahwa Dia-lah yang menganugerahkan kenikmatan tersebut terhadapmu.


من تربية الله لك(7)...
حين تقوم بالعبادة من أجل الدنيا يحرمك الدنيا حتى يعود الإخلاص إلى قلبك وتعتاد العبادة للرب الرحيم ثم يعطيك ولا يُعجزه


7) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
(Terkadang) Ketika kamu sedang melaksanakan ibadah karena berniat mencari dunia, lalu Dia menghalang-halangi kamu dari dunia sehingga niat ikhlas dapat kembali lagi ke hatimu, dan kamu dapat terbiasa beribadah karena Rabb yang Maha Penyayang, kemudian akhirnya Dia memberikanmu (dunia tersebut) dan tidak melemahkan keikhlasanmu.


من تربية الله لك (8)...
أن يُطيل عليك البلاء ويُريك خلال هذا البلاء من اللطف والعناية وانشراح الصدر ما يملأ قلبك معرفة به حتى يفيض حبه في قلبك


8) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
(Terkadang) Dia memperlama ujian dan cobaan pada dirimu dan Dia hendak memperlihatkan padamu disela-sela cobaan ini; kasih sayang, pertolongan, dan perasaan lapang dada yang memenuhi hatimu, yang kamu ketahui dengan baik, sehingga kecintaan tersebut memenuhi hatimu.


من تربية الله لك(9)...
أن يراك غافلا عن تربيته وتُفسر الأحداث كأنها تحدث وحدها فيظل يُريك من عجائب أقداره وسرعة إجابته للدعاء حتى تستيقظ وتُبصر


9) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
(Terkadang) Dia melihat dirimu lalai untuk mendidik hatimu dan menafsirkan semua kejadian-kejadian seakan-akan semuanya terjadi dengan sendirinya, kemudian Dia memperlihatkan padamu sebagian dari keajaiban takdir-takdir-Nya dan pengabulan-Nya yang cepat terhadap doa, sehingga (ketika itu) kamu bisa bangun dan sadar dari kelalaian tersebut.


من تربية الله لك(10) ...
أن يعجل لك عقوبته على ذنوبك حتى تُعجّل أنت التوبة فيغفر لك ويطهرك ولا يدع قلبك تتراكم عليه الذنوب حتى يغطيه الرّان فتعمى


10) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
(Terkadang) Dia mempercepat turunnya hukuman-Nya terhadap dirimu atas dosa-dosamu sehingga kamu dapat segera bertaubat, lalu Dia mengampunimu dan menyucikanmu dan tidak membiarkan dosa-dosamu terakumulasi dan memenuhi hatimu, sehingga hatimu tertutup dengan "ar-raan" (noda hitam) yang menyebabkan hatimu menjadi buta.


من تربية الله لك (11)...
أنك إذا ألححت على شيء مصراً في طلبه متسخطاً على قدر الله يعطيك إياه حتى تذوق حقيقته فتبغضه وتعلم أن اختيار الله لك كان خيرا لك


11) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
Sesungguhnya ketika dirimu terus menerus memelas memohon sesuatu serta marah-marah terhadap qadar Alloh (karena belum mengabulkan keinginanmu), maka Dia memberikan dan mengabulkannya untukmu sehingga kamu dapat merasakan hakikat (keburukan hasil)nya, lalu kamu membencinya dan kamu baru mengetahui (ketika itu) bahwa pilihan Alloh untukmu lebih baik bagimu.


من تربية الله لك (12) ...
أن تكون في بلاء ... فيُريك من هو أسوأ منك بكثير (في نفس البلاء) ... حتى تشعر بلطفه بك وتقول من قلبك: الحمد لله


12) Termasuk tarbiyah Alloh terhadapmu...
Suatu ketika kamu tertimpa cobaan, lalu Dia memperlihatkan kepadamu orang lain yang tertimpa cobaan yang sama denganmu, akan tetapi keadaannya jauh lebih buruk daripada dirimu, sehingga kamu dapat merasakan belas kasih-Nya terhadap dirimu

Jangan Terlena di Perjalanan

Apa itu bahagia ?
Apa saat sudah tak ada lagi yang dihasratkan ? Namun kurasa itu soal kepuasan, bukan kebahagiaan.

Kebahagian hakiki adalah soal barakah. Jalan bisa mulus lagi penuh sejuknya semilir, jika tak lupa siapa pemberi nikmat, jika syukur yang dilakukan, insyaAllah bahagia.

Dan ingatlah tatkala rabbmu memaklumkan,”Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat untuk kalian. Dan jika kalian mengingkari, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih. QS Ibrahiim : 7

Kadang, jalan itu bisa berliku lagi mendaki, penuh bebatuan dan duri, jua gelap lagi dihuni kebuasan. Kadang jatuh, terperosok, terjerembab. Namun jika pelan-pelan, lantas sabar yang dilakukan, maka insyaAllah juga bisa bahagia.

Katakanlah (Muhammad),”Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman ! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. Qs Az-Zumar : 10

Suatu saat seorang penuntut ilmu hendak ujian. Ia coba persiapkan segala bekal agar lulus dalam ujian ini, agar dapat sepenuh-penuhnya menjawab pertanyaan dari gurunya. Namun di tengah ujian itu, rupanya ada hal-hal yang harusnya ia ketahui namun khilaf dirapalkannya. Ada hal-hal yang esensial yang tidak dikajinya. Lantas ia tak mampu menjawab pertanyaan sang guru. Diakhir ujian, sang guru pun membantunya dengan lembut, membimbingnya untuk menemukan jawaban itu. Ia senang. Namun di akhir tahun ajaran, ternyata saat diumumkan, penuntut ilmu yang lain mendapat penghargaan atas usahanya yang baik, yang berbeda dari yang pertama, ia tak lupa lagi khilaf soal hal-hal esensial itu. Ia mampu menjawab pertanyaan sang guru dengan baik dan sang guru pun menghadiahinya penilaian tertinggi. Sang penuntut ilmu yang pertama tadi, timbul sedihnya, dan mungkin, timbul dengkinya.

Identitasnya, ialah penuntut ilmu. Orientasi dan tujuannya tercitra pada identitasnya. Maka harusnya penilaian tak membuatnya goyah, tak membuatnya tergoda. Menuntut ilmu itu tak hanya saat sebelum ujian, namun saat ujian, dan bahkan setelah ujian pun masih ada porsi kewajiban untuk terus menuntut ilmu. Bisa jadi penilaiannya tak sebaik yang lain, tapi pastikan ilmu itu tak lepas, tak hilang. Setelah tahu soal kesalahan, insyaAllah semakin dekat pada kebenaran. Ada limpahan ilmu pada saat belajar sebelum ujian, pada saat ujian, hingga selesai ujian. Semoga hati tak goyah pada hal-hal berupa penilaian, penghargaan, apalagi opini manusia.

Dan rupanya, begitulah yang kurasa soal ikhtiar. Soal berusaha. Niat kita baiknya hanya untuk Allah semata. Niat kita adalah soal keberkahan. Maka sebaik apapun niat, bukan jaminan soal hasil berikhtiar. Hasil adalah hakNya yang telah tertulis dalam lauhul mahfudz. Jauh sebelum nafas ini berhembus. Rasa suka ialah anugrah dariNya, maka jalan terbaik hanyalah menyalurkannya dalam cara-cara yang Ia ridhai. Berproses dengan hati-hati, menjaga hati, mendekatkan diri padaNya, merayuNya dengan do’a-do’a, yang bertarung dengan takdir di langit, kemudian yang tersisa hanyalah tawwakal. Jika benar, rupanya, memang rasa itu beresonansi dengan takdir, maka tak boleh meninggi, tak boleh lupa bahwa itu semua ialah kekuasaanNya nan maha tinggi. Bersyukurlah, agar melimpah barakah. Namun, namun ya rabb, jika ternyata belumlah seirama antara rasa dan takdir ilahi, maka bisa jadi ini adalah pelajaran soal tulus ikhlas. Bisa jadi, bisa jadi ini adalah pelajaran soal kesabaran. Bersabarlah, (juga) agar melimpah barakah.

Kita, harusnya, tak lupa soal tujuan semula. Keberkahan. Allah, Allah, dan Allah. Ibarat sang penuntut ilmu tak pernah boleh lupa soal tujuannya, yakni ilmu. Penilaian boleh jadi paling baik pun paling buruk, namun apapun yang terjadi, ilmu tetap harus direnggut. Maka soal rasa pun sama. Entah bagaimana rupanya rasa di hati ini mengejawantah, maka semoga kita tak lupa akan syukur dan sabar, agar barakah terpagut.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Qs Al Baqarah 216

Ketaatan itu, melebihi rasa suka pun benci.

Soal hati, gelisah itu wajar. Sedih juga manusiawi. Jika ia terus ada, maka jagalah ia agar tak menggoyahkan. Tak ada rasanya yang tak dapat sedih lagi goyah. Semua tak lepas darinya, percayalah. 

“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun bila ingatan ayah terhadap Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah segera mengambil air wudhu. Ayah shalat taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah.” – Haji Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA)

 Dan tak lupa, banyak cara meraih barakah, banyak jalan menuju surganya Allah. InsyaAllah.

“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silahkan sia-siakan orang tua kalian.” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”)

Suatu hari, ‘Abdullah Bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?” Rasulullah menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Kemudian ia kembali bertanya, “Lalu apa lagi?” Rasulullah menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Kemudian ia kembali bertanya, “Lalu apa lagi?” Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam menjawab, “Berjihad di jalan Allah.”. (Muttafaq ‘Alaih)

Selamat hari ibu, untuk semua ibu-ibu di dunia, umumnya, dan khususnya, hanya untukmu, ibu.


Bandung, dua puluh tiga Desember dua ribu lima belas







Nb. Catatan ini, beserta catatan-catatan yang lain, ditulis dengan niat agar menjadi pengingat lagi penenang hati penulis. Pun ada kiranya yang dapat diambil, Alhamdulillah. Pun ternyata penulis yang banyak cela lagi hina ini khilaf, insyaAllah dua telinganya siap mendengarkan.

Saat Tahu Kapan Waktu itu Datang

Waktu itu kami sedang menjalani proses pendidikan profesi di sebuah rumah sakit di kota Bandung. Kami temui pengajar dokter-dokter spesial(is) yang amat jauh terpaut usianya dengan kami, namun masih saja rela membimbing kami dan teman-teman yang ibarat baru lahir kemarin sore. Dan yang kami sukai, betapa pengalaman mendewasakan dan kebijaksanaan mengajarkan kami jauh lebih berkesan dibanding segala metoda-metoda menuntut ilmu lainnya. Beliau mengajarkan kami dengan cerita, dengan kisah dan dengan teladan. Maka, bukan soal menggurui, bukan soal sok tahu, apalagi menghakimi, kami hanya hendak sedikit membagi kisah yang menjadi inspirasi kami hingga detik ini. 

#Saat Tahu Kapan Waktu itu Datang

Ia adalah pria yang tampan. Badannya pun tinggi semampai lagi bersih. Kemudian dari caranya berbahasa lagi berbicara dapatlah semua yang mendengar ketahui dasar pendidikannya yang tinggi. Dan yang paling istimewa, dari kesantunannya terhadap lawan bicaranya, maka kita ketahui bahwa ia berasal dari keluarga baik-baik, insyaAllah. 

Sudah lima hari ia ada di rumah sakit itu. Suatu hal yang amat aneh sejujurnya. Merokok tak pernah apalagi menenggak alkohol. Maka jangan tanya soal obat-obatan terlarang. Amal shalihnya terlihat saat setiap hari berkunjung. Dan jika kami tidak salah ingat, ia telah mapan dan bekerja di sebuah perusahaan di kota itu, kotanya Muhammad Thoha sang pembakar semangat. Namun saban hari yang lalu, darah termuntahkan dari mulutnya. Sontak rekan serta keluarganya amat kaget akan kondisinya. 

Hari itu adalah hari keluarnya hasil pemeriksaan darahnya soal insiden yang belum lama terjadi itu. Kebetulan sang istri serta anaknya belum hadir di rumah sakit saat itu. Tetapi guru kami sudah. Ia segera beranjak ke tempat tidur pria itu untuk memberitahukan sebuah kabar padanya. Kabar buruk rupanya. 

"Pak, selamat pagi. Bagaimana tidurnya semalam, bisa tidur ?"

"Pagi dok, Alhamdulillah bisa tidur nyenyak dok. Meski dini hari sempat terbangun juga dok."

"Alhamdulillah. Bagaimana kondisinya pak, apa masih ada keluhan ?"

"Alhamdulillah tidak lagi dok. Tidak ada lagi muntah darah dok."

"Baiklah kalau begitu pak. Punten, pak, saya baru saja menerima hasil pemeriksaan darah bapak. Hasilnya baru saja keluar."

"Iya, bagaimana dok hasilnya ?"

"Sebelumnya, apa bapak mau saya beritahukan setelah seluruh keluarga datang atau mau saat ini saja ?"

Pria itu terdiam cukup lama, sedang guru kami bersabar menunggu. Pandangannya jauh ke depan. Namun tak lama, ia kembali menoleh pada guru kami. 

"Hasilnya tak baik ya dok ? Ya sudah dok, tidak apa sekarang saja."

Guru kami hening sejenak, menarik nafas lalu menghelanya pelan-pelan. 

"Pak, dari pemeriksaan, kami temukan ternyata bapak menderita kanker hati stadium lanjut. Saya sudah berkonsultasi dengan dokter bedah dan dokter ahli tumor, penyakit bapak sudah masuk stadium akhir. Tak banyak yang dapat saya dan dokter-dokter yang lain dapat lakukan lagi pak."

Pria itu terkejut. Hanya ada dia dan guru kami di ruangan itu. Seketika suasana begitu sepi, begitu dingin dan begitu sunyi. Hanya ada angin semilir yang berhembus pelan. Seakan berhati-hati agar tak melukai lagi mendingini orang-orang di ruangan itu. 

"Subhanallah, berapa banyak waktu yang saya punya, dok ?

"Tidak ada yang pasti pak, amat bergantung pada kondisi bapak. Namun dari penelitianyang pernah ada, kemungkinan bapak punya waktu enam bulan."

"Enam bulan ?!"

"Saya takut begitu pak."

Air matanya menetes membasahi pipinya. Usianya masih amat belia. Bahkan anaknya belumlah mengenal baca tulis. Istrinya, hanyalah ibu rumah tangga biasa. Semenjak menikah tak lagi bekerja di luar rumah. 

"Dok, saya punya sebuah permintaan."

"Iya, apa yang dapat saya bantu, pak ?"

"Saya minta semua ini dirahasiakan pada seluruh keluarga saya dok. Saya minta yang mengetahui hal ini hanya saya dan dokter saja."

Guru kami mengangguk pelan

"Baik pak, insyaAllah. Namun saya harap bapak tetap memeriksakan kondisi bapak secara berkala. Saya dapat membantu memberikan pada bapak obat-obat untuk mengurangi gejala-gejala yang bapak derita."

"Baik dok, insyaAllah saya akan rutin datang ke dokter untuk kontrol."

Hari-hari setelahnya amatlah berat. Guru kami hanya mengetahu sedikit saat beliau menangani pria itu untuk pemeriksaan rutinnya. Dan seiring berjalannya waktu, terlewatlah masa enam bulan itu. Kondisi pria itu memburuk dengan amat drastis. Ia kembali sekali lagi harus terbaring di tempat tidur itu lagi, di rumah sakit itu. 

Gejalanya makin parah. Guru kami sengaja berjaga malam itu. Tak biasanya dilakukan oleh dokter dengan derajatnya. Namun guru kami bilang bahwa ia telah memiliki keterikatan dan komitmen akan pasiennya. Khususnya pasien ini. 

Dan benarlah. Benar rupanya, malam itu ialah malam terakhirnya hidup di dunia nan fana ini. Malam itu, malaikat maut mencabut nyawanya. Segala usaha guru kami memberikan resusitasi tak membuahkan hasil. Dan sekali lagi, manusia tak bisa mampu mengalahkan kematian. Mungkin, karena memang hal ini bukan untuk dikalahkan.

Berhari-hari telah berlalu semenjak malam itu. Segala urusan soal pemakaman telah selesai dilakukan oleh istri dan keluarga pria itu. Namun pada sebuah pagi, datanglah sang istri beserta anaknya kepada guru kami. Sang istri hendak tahu soal kondisi suaminya. 

"Dok, punten, mohon maaf mengganggu. Saya hendak menanyakan soal almarhum suami saya. Yang dahulu pernah berobat kesini dan setelah pulang gejalanya membaik. Namun entah kenapa tiba-tiba memburuk beberapa waktu lalu hingga ia dipanggil yang maha kuasa. Dia tak pernah mau menceritakan setiap saya menanyainya. Karenanya, saya mohon dokter dapat memberikan penjelasan tentangnya."

Guru kami, pelan-pelan, menceritakan soal kejadian enam bulan yang lalu hingga permintaan khusus pria itu terhadapnya. Beliau berusaha selembut dan sejelas mungkin. 

Wanita itu, tertekuk lesu. Terduduk di kursi di sudut paviliun rumah sakit itu. Sembari menggendong buah hatinya satu-satunya, yang telah terlelap semenjak tadi. 

Guru kami diceritakan, bahwa memang pria itu amat lembut lagi santun. Ia amat tak pernah mau memberatkan siapapun sedikitpun. Diceritakan jua, bahwa dalam enam bulan terakhir ia amat giat bekerja hingga larut malam. Saat tiba akhir pekan ketika biasanya banyak pria seusianya beristirahat dengan tenang di rumah, ia berbeda. Ia giat berusaha mencari rezeki di luar pekerjaan sehari-harinya. Kemudian, entah ada angin apa, ia sempatkan secara rutin menemani anaknya sekolah di playgroup. Ia ambil cuti di perusahaan hanya agar dapat mengantar dan menjemput serta bermain bersama buah hatinya. Saat ditanya, ia hanya tersenyum simpul sembari menjawab, sedang ingin bermain bersama buah hatinya. Kemudian, yang paling mengejutkan, bahwa ternyata dalam enam bulan terakhir, dengan segala usaha-usahanya, ia meninggalkan bagi istri dan anaknya sebuah bangunan kos-kosan di sebuah tempat yang ramai lagi berpotensi. Semua itu, beserta rumah dan kendaraannya telah diatasnamakan dengan nama istrinya. Tak lupa, ternyata ia telah menyisihkan seluruh pendapatan dan tabungannya, untuk menjaminkan pendidikan buah hatinya kelak. 

                                                                          ***

Saat tahu kapan waktu itu datang, mereka-mereka, pribadi luar biasa. Dewasa lagi bijak, melaju melesat tanpa ragu menyiapkan segalanya. 

Saya pernah mendengar, terpidana hukuman mati di malam-malam terakhir menjelang eksekusi kematiannya, beberapa ada yang bertaubat dan mencoba kembali pada jalan yang diteguhkan yang maha kuasa. Beberapa menghabiskan waktu-waktunya dengan beribadah semampunya, sekeras-kerasnya, sebanyak-banyaknya. Sekhusyu'-khusyu'nya, mereka berusaha. 

Saat tahu kapan waktu itu datang, mungkin karena terasa dekat. Karena terasa tak banyak lagi waktu tersisa, maka mereka-mereka yang dewasa lagi bijak mengusahakan sebaik-baiknya. Tak membuang waktu dengan sesal lagi kecewa apalagi amarah dan depresi. Usahakan sebaik-baiknya karena ada yang harus dilindungi, ada yang harus ditinggalkan dengan tenang tanpa gelisah. 

Namun yang lebih menyentuh hati kami, bahwa sejatinya, bisa jadi waktu kami lebih singkat daripada enam bulan waktu pria itu. Waktu kami, yang belum ada petunjuk-petunjuknya, menyisakan kemungkinan esok pagi, nanti malam, sebulan lagi, setahun lagi atau bahkan sebentar lagi. 

Inilah hakikatnya soal takdir. Sudah tertulis namun rahasia. Karenanya, yang bisa dilakukan hanyalah memberi yang terbaik setiap saat. Dan bersiap-siap setiap saat. Maka tak ada waktu untuk cengeng dan bersusah hati, inilah waktu mendewasa dan membijaksana. Siapkan sebaik-baiknya saat waktu itu datang. Jauhi hutang, jika memang telah ada maka siapkan jaminan jika terjadi apa-apa. Jika ada tanggungan pada diri kita, maka siapkan contingency plan bila terjadi apa-apa pada kita. Dan yang paling esensial, mungkin, ialah menyiapkan bekal perjalanan sebaik-baiknya untuk perjalanan akhir itu. 

Yang paling cerdas diantara kalian ialah mereka yang mengingat kematian - Rasulullah SAW

Jakarta, dua puluh satu Desember dua ribu lima belas.


Soal Rezeki

#1
Waktu itu kami sedang berusaha mandiri dan belajar mengatur kebutuhan finansial sendiri. Lantas setelah dianalisa, ternyata pengeluaran yang cukup besar dan terbilang sia-sia berasal dari sisi transportasi. Lalu terbersitlah beberapa opsi soal pengematan. 

1. Naik angkutan umum, dengan biaya harian yang cukup lumayan juga dengan segala keterbatasannya, soal waktu utamanya. 
2.  Membeli motor, motor bekas tepatnya. Namun akan menghabiskan sejumlah besar uang yang sedang kami kumpulkan meski biaya hariannya jauh lebih murah daripada angkutan umum. 

Hati kami cenderung pada pilihan kedua. Meski sedih juga akan terpakai sejumlah uang yang telah dikumpulkan, namun kami berpikir bahwa kebermanfaatannya insyaAllah akan lebih banyak. 

Di malam sebelum pilihan ini hendak kami laksanakan, seorang sahabat saat itu sedang beres-beres di kosannya untuk pindahan, kembali ke kota asalnya. Kami ada disana sedikit membantu. Kemudian, ia berkata," Bro, gue nitip motor dulu sementara di lu ya. Susah kalau dibawa sendiri atau dikirim. Lagian belum tentu kepake juga kalau di rumah."

#2
Hari itu diawali dengan terik mentari nan amat cerah. Menyilaukan lagi menghangatkan. Namun saat sang raja siang duduk di takhtanya, di tengah hari, sang langit seakan menjadi bingung. Cerah tidak, tanda-tanda hujan juga belum pasti. Saat sang sore menjelang rupanya langit belumlah juga mampu memutuskan. Namun kami ternyata harus segera pulang. Ada yang harus segera kami kerjakan, yakni tugas ujian dan beberapa amanah lainnya. Lantas kami bergegas dan memacu motor dengan hati-hati. Hingga tiba di rumah, ternyata bersamaan dengan tetesan rintik hujan yang jatuh satu persatu lalu langsung memburu. Membasahi permukaan bumi dengan adil, menumbuhkan sendu dan rindu di hati para pemuda pemudi, dan menyegarkan dahaga pepohonan yang telah lama meranggas. 

Terlambat satu dua menit mungkin kami akan menjadi bagian dari hegemoni hujan itu, kuyub hingga dalam-dalamnya. 

#3
"Bro, ada job ga ?"
"Lagi ga ada nih bro."

Beberapa hari kemudian

"Bro, ada job lumayan nih. Mau ngambil ga ?"
"Ok InsyaAllah, tapi lagi diluar nih. Boleh tolong di handle dulu ga, nanti pas saya nyampe rumah saya beresin."

Beberapa waktu kemudian
"Bro, jadi ga sih ngambil job nya ?"
"Maaf, maaf, belum nyampe rumah nih."
"Kalau bisa bilang bisa, kalau emang ga bisa ga usah dipaksain !"
"Maaf, tadi kan udah bilang, bisa ngeberesin dan ngurusin kalau udah nyampe rumah."
"...."

Akhirnya ga pernah lagi dapet job dari temen ini karena masalah sederhana ini. Namun, esoknya tiba-tiba masuk sebuah pesan di telefon genggam kami. 
"Assalamualaikum, kang. Punten mohon maaf ganggu, kami dari panitia acara "X" hendak mengundang akang jadi pemateri talkshow di acara kami, di hari "Y" tanggal "Z". Apakah akang bersedia dan bisa ?"

Seminggu kemudian. 

"Assalamualaikum, kang. Punten mohon maaf mengganggu, saya "O" dari panitia agenda "X" hendak mengundang akang untuk menjadi moderator pada acara kami, hari "Q" tanggal "R". Apakah akang bersedia ?"

"Saya lagi dek ?"
"Iya kang..."

#4
"Jangan ada yang terlambat ya, jam setengah tujuh udah harus disini. Nanti kalau telat dapat kasus sisa !"

Ceritanya, karena kemacetan dan kehilangan barang, kami terlambat datang 15 menit. Dan benarlah ternyata kami mendapatkan kasus sisa saja, yang kadang jackpot atau aneh-aneh. 

Namun, setelah ujian, seorang teman berkata,
"Kok aku dapet kasus ini ? ini kan ga pernah ada sebelum-sebelumnya, baru kali ini doang. Ah, coba kamu datang duluan, pasti kamu yang dapet !"

#5
"Bro gimana bulan ini, makan di "M" yuk !"
"hehe, engga dulu deh, lagi nabung, dan ini mau ngebina dulu."

Habis ngebina, adik binaan tiba-tiba ngajak makan,
"Kang, makan di "E" yuk !"
"Ah, jangan deh, itu kan jatahnya buat yang jaga."
"Wah, buktinya apa nih kang ? Ga ada loh dibilang di surat edarannya soal jaga atau engga. Disana tertulis makan di "E" teh buat koas dan residen. Ga ada kata jaganya kang."
"Yang bener ?"
"Bener kang."

Nimbrung temen yang tadi, 
"Nah bro, pait-paitnya lu usaha, minimal InsyaAllah tiap hari ga bakal kelaperan dah. Makan aja di "E". Ada kan tiap hari ?"

Kadang rezeki tak selalu soal uang. Kadang bentuknya bantuan, kadang kemudahan, kadang jalan keluar di kala kesulitan, kadang bahkan sesederhana terhindar dari kesusahan. Tapi kadang kita lupa dan fokus dengan uang. Jika kita resapi baik-baik, banyak sekali rezeki yang (mungkin) lupa kita syukuri. 

Soal rezeki adalah soal hati. Dan soal mensyukuri. Ada yang cuma bisa makan nasi bungkus berdua tapi lezatnya luar biasa. Tapi ada yang bisa makan di restoran dan memesan banyak makanan buatan koki papan atas namun tetap saja tidak puas. Ada yang tidurnya hanya beralaskan kain tipis dan berselimutkan sarung saja namun dapat tertidur pulas. Tapi ada yang terlelap di atas kasur yang harganya jutaan namun tak dapat menemukan kenyenyakan. 

Soal rezeki adalah soal ketetapan ilahi. Ada yang kadang makan kadang tidak, namun saat berkesempatan makan bisa mencicipi apa saja yang bisa dicicipinya. Ada yang berkecukupan namun saat hendak makan sudah banyak peringatannya,"pak awas kolesterolnya !";"pak, awas dijaga gula darahnya !"

Soal rezeki adalah soal menggapainya dengan cara yang Ia cintai, agar Ia berikan juga dengan cara yang menyenangkan hati. Uang sepuluh juta, bila disampaikan baik-baik, disampaikan dengan amplop coklat yang terbungkus rapih, dan diserahkan dengan sopan santun serta akad yang baik, niscaya akan menyenangkan hati. Namun uang sejumlah sama, jika diberikan dengan kasar, dilemparkan ke muka, tak terbungkus hanya terikat dengan temali yang semrawut, meski tak berbeda nominalnya namun dapat saja bahkan membuat marah yang menerimanya. 

Soal rezeki, jalani saja ikhtiar yang di ridhai, bersabar dalam menunggu, dan siapkan dada nan lapang saat menerima kabar. Tak ada yang tahu nanti hasilnya musibah atau anugrah, namun insyaAllah semua hal pasti berhikmah. 

Kita terkadang meminta dan berdoa soal apa yang kita inginkan, tapi Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan. Tak peduli sekeras apa kita beranggapan mengenal diri sendiri, tapi Allah selalu lebih mengenal hambanya. 

Rezekiku tak akan diambil orang, karenanya aku tenang. Amalku tak akan dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang - Hasan Al Bashri
Dan salah satu yang termasuk dalam rezeki itu, ialah jodoh.

Bandung, lima Desember dua ribu lima belas

Kepedulian, Sebuah Evolusi

Kami haturkan bela sungkawa, atas berpulangnya seorang lagi, pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Kesehatan dan kesejahteraan bangsa adalah kewajiban negara, maka engkau sesungguhnya berpulang saat sedang menjalankan tugas negara. Semoga engkau di terima di tempat yang sebaik-baiknya, disisiNya. 

Setelah datang berbagai macam badai, entah soal BPJS, soal dokter layanan primer, soal tuduhan gratifikasi dokter dan perusahaan farmasi, kini ada hentakan lagi. Hentakan yang berujung nyawa. Hentakan-hentakan ini membanjiri sosial media Indonesia, dengan intensinya masing-masing. Ada yang mengaitkan kesalahan minor Menteri saat salah menyebutkan kedudukan sang pahlawan, hingga dibesar-besarkan dan lantas mengasumsikan sang Menteri tak paham soal program kementeriannya sendiri. Ada yang mengait-ngaitkan dengan rendahnya gaji Internship dokter, lantas terkena ensefalitis (seakan) adalah soal gaji yang rendah. Ada yang mengait-ngaitkan dengan fasilitas dan keamanan kerja dokter, di daerah terpencil khususnya, lantas mereka semua menjadi rentan terkena penyakit berat seperti ensefalitis dan betapa (asumsinya) fasilitas buruk serta tak ada yang ahli disana. 

Sedikit banyak aku berpikir, kalau seandainya yang terkena ensefalitis di sana bukan seorang dokter, - dokter yang masih muda khususnya - yang tidak luas pergaulan sosial medianya, yang mungkin berasal dari profesi yang tidak ada organisasi profesinya, yang tidak aktif akun ofisial sosial media perkumpulan mahasiswanya, atau bahkan tidak kenal apa itu sosial media, akankah beritanya akan mencapai mata dan telinga kita ? akankah kita ketahui hal itu ?

Atau seandainya aku juga bertanya, apakah ini kasus yang pertama kalinya terjadi disana ? benarkah tidak ada sebelumnya hal yang sama pernah terjadi ? yang hanya saja bukan seorang dokter yang terkena ? apakah benar, tidak ada warga negara Indonesia juga, yang sama hak dan kewajibannya, yang meninggal karena hal yang sama ?

Wallahualam bi sawab, hanya Allah yang tahu. 

Sejujurnya, tak perlu kita sibukkan waktu dan konsentrasi Ibu Menteri pada hal-hal trivial laiknya kesalahan penyebutan. Tak perlu habis segala sumber daya untuk itu semua. Terkena ensefalitis, atau malaria serebral, atau apapun penyakit gawat lainnya, belum tentu ada hubungannya dengan gaji yang rendah. Karena gaji internship yang rendah lantas sang pahlawan dipilih oleh virus HSV atau CMV atau parasit Toksoplasma hingga beliau terkena ensefalitis, begitukah maksudnya ?

Tak elok kita mengaitkan kematian seseorang, terlebih lagi seorang pahlawan, dengan masalah kita sendiri dengan tujuan agar sekalian didengarkan oleh khalayak. Tak elok, tak pantas. Ada jalur yang benar dan tepat. Advokasi memang sulit dan memang harus oportunis agar mendapat momentum yang pas, tapi hingga membawa-bawa kematian orang lain karena hal itu ? Pikirkan bagaimana kecamuk di kepala keluarga sang Pahlawan. Seakan kita meminta mereka berpikir bahwa negara telah menyebabkan anak mereka berpulang, karena gaji yang rendah.

Kemudian, benarkah ini soal inkompetensi ? Soal fasilitas ? Mungkin benar. Namun menurut hal terakhir yang aku dapatkan bahwa beliau telah didampingi oleh dua orang spesialis penyakit dalam. Wahai teman, tahukah engkau betapa luar biasanya gelar itu ? Spesialis penyakit dalam. Minimal empat hingga lima tahun berjibaku, dan jika engkau beruntung, barulah engkau dapat mendapatkan gelar itu.

Jika memang ini masalah fasilitas, benarkah ini soal fasilitas lokal ? Bagaimana jika kukatakan, bahwa jikapun hal itu terjadi di Bandung sekalipun, belum tentu pasien selamat. Ensefalitis, terlebih stadium lanjut, harapannya amat kecil. Pun selamat, kemungkinan besar akan tetap ada defisit neurologis. Beberapa bahkan berada dalam kondisi vegetatif, dan entah berapa banyak yang tetap tak mampu meraih kesadarannya kembali. Dan bagaimana jika kuberitahukan, bahwa tempat yang diisi oleh dokter-dokter internship adalah tempat yang telah cukup lengkap, RS tipe C, yang pasti ada seorang dokter umum yang bertugas khusus mengawasi dokter intership. Yang ingin kukatakan adalah, bahwa lokasi internship dokter, adalah lokasi dengan fasilitas minimal yang masih dapat ditoleransi. Masih ada lokasi-lokasi yang lebih mengenaskan dan mengkhawatirkan. Yang jangankan diketahui oleh khalayak, diobati oleh seorang dokter saja sudah amat bersyukur. Meski penyakitnya segawat ensefalitis sekalipun.

Betapa ucapan, selentingan dan tulisan dapat membahayakan. 

Andai yang tak berilmu mau diam sejenak, niscaya kan gugur perselisihan yang banyak - Ali bin Abi Thalib

Dokter ataupun bukan dokter, semuanya berhak atas kepedulian yang sama. Namun, jika ternyata mereka yang bertugas menyelamatkan nyawa manusia telah dapat juga jatuh tewas, maka bagaimana dengan yang bukan dokter ? Bukan tak mungkin telah banyak yang berpulang sebelumnya karena hal yang hampir sama, lantas, mungkin, profesinya tak seterhormat dokter, atau tak seterkenal itu, jadi tak ada kabar beritanya. 

Untuk profesi dokter sekalipun, ini bukanlah yang pertama. Pada bulan mei tahun ini juga pernah ada kabar seorang dokter PTT meninggal karena Malaria di Papua. Dan yang paling aku takutkan adalah hal ini menjadi rutinitas. Beberapa waktu kedepan, mungkin - meski kuharapkan jangan, ya rabb - akan ada lagi yang bernasib sama dengan pahlawan-pahlawan ini. Lantas akan banyak ucapan bela sungkawa dan publikasinya di sosial media. Beberapa mengutip kisah-kisahnya dan beritanya. Beberapa bahkan (mungkin) hendak mengaitkannya dengan banyak hal, gaji misalnya. Bahkan bukan tak mungkin juga akan ada aksi solidaritas, menggunakan pita hitam, likes, share hingga mengubah gambar profil sosial media. Lalu berlalu sekian waktu hingga kabar itupun meredup. Khalayak mulai kembali pada kesibukannya masing-masing sedang akar masalah kematian para pahlawan ini tetap kokoh membumi. Tak tersentuh, tak terganggu. Dan ada yang berikutnya lagi, berikutnya lagi, berikutnya lagi. 

Hendak berapa banyak lagi para pahlawan ini terkorbankan barulah kita bergerak, lebih dari sekadar likes, share dan bela sungkawa ?

Banyak kematian yang dapat dicegah terjadi pada semua golongan manusia, baik di kota maupun di pelosok negeri ini. Akar masalahnya mulai dari inkompetensi, nil fasilitas, keterlambatan, antrian hingga hanya karena kebodohan. Dan yang berwenang ternyata disibukkan dengan usaha menyelamatkan diri sendiri dahulu barulah tenang menolong. Beberapa telah tenggelam dalam sistem, menurunkan standar toleransinya, hingga sampai pada tahap pemakluman.

"mau bagaimana lagi dek ?"
"memang ruang rawat intensifnya sedang penuh dek ?"
"kapasitas kita memang cuma segini dek"
"dek, lebih mudah mati daripada masuk ke PICU (pediatric intensive care unit)"
"emang udah telat deh, ensefalitisnya udah stadium lanjut"
"udah mau gimana lagi dek, keluarganya mau pulang dulu ga mau operasi. Tapi kalau pulang kondisi gawat gini emang boleh dok ? kita ga boleh maksa dek ! kita udah jelasin baik-baik"
"udah metastasis otak dek, udah ga ada harapan, emang terdiagnosis pas udah stadium akhir dan pasien menolak operasi"

Tak kupungkiri, menjelaskan pada pasien terutama yang berasal dari tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah punya tantangannya tersendiri. Kadang beberapa tanpa ada alasan yang jelas tak sepenuhnya percaya atas penjelasan dokter. Tak sekali dua kali kutemukan pasien yang harusnya segera dioperasi namun dibawa pulang paksa oleh keluarganya hanya karena merasa pasien telah sedikit membaik. Lalu dua hari berikutnya datang lagi setelah kondisi gawat dan berada pada fase yang tak dapat tertolong lagi.

Memang tugas dokter penanggung jawabnya hanya sekadar menjelaskan dan memberi tahukan, bukan memaksa, tapi harusnya tidak melakukan hal ini sekadarnya.

Keluarga meski dijelaskan sebaik apapun tak akan memiliki pemahaman yang sempurna perihal kondisi pasien yang sesungguhnya. Maka seorang dokter harusnya benar-benar berusaha, minimal walau keluarga yang dijelaskan tak sepaham sang dokter tetapi perasaan khawatir dan waspada keluarga harus setingkat dengan sang dokter. Orang akan lupa pada apa yang kita katakan pada mereka tapi mereka akan selalu ingat bagaimana perasaan mereka karena kita.

Kita menjadi sibuk pada hal-hal menyambung hidup, bukan mengisi hidup - Pramoedya A. T.
Kita bukan parasit yang tujuan hidupnya tak lebih dari sekadar bertahan, entah bagaimanapun caranya. Mengambil nutrisi inang, menempel, bahkan mematikan inang asal diri sendiri selamat. Kita tak seperti ini, kita lebih dari itu. Yang membedakan kita dengan parasit adalah empati bahkan simpati. Kita diberi kapabilitas untuk peduli bahkan bertindak atas dasar kepedulian itu.

Masalah memang banyak, namun bersikap pasif hanya akan membuat masalah ini menjadi rutinitas. Dan masyarakat apa yang lebih parah dibanding mereka yang memaklumkan kematian salah seorang anggotanya. Kita mampu berusaha lebih sejatinya, kita mampu melakukan lebih dari likes, share, ganti prof-pict dan memakai pita hitam. Kita mampu melakukan lebih dari sekadar menjelaskan, meminta tanda tangan surat penolakan, dan merasa lega dan tenang. Kita mampu lebih, demi Allah kita mampu.

“You go ahead and sit back in your comfortable chair and you be the critic, you be the observer, while the brave one gets in the ring and engages and gets bloody and gets dirty and fails over and over and over again, but yet isn’t afraid and isn’t timid and lives life in a bold way.”
-Theodore Roosevelt

Meski dalam ketidakmampuan, ketidakberdayaan, jangan pernah sekalipun hati kita menerima, memaklumi. Minimal bersuaralah, beritahukan pada dunia agar masalah ini tak terulang kembali. Agar dapat diantisipasi. Jadillah lebih dari yang lain, dan tak usah takut meski sendiri. Berevolusilah, jadilah spesies yang lebih baik dari yang ada saat ini, dengan kepedulian.

Evolution has yet to transcend that simple barrier. We can care deeply - selflessly - about those we know, but that empathy rarely extends beyond our line of sight. Dr Mann, Interstellar

Peduli tak hanya pada orang terdekat, pada mereka yang satu profesi atau pada mereka yang terlihat, pedulilah pada semua. Tanpa diskriminasi.

Bandung, dua puluh dua November dua ribu lima belas

Bukan Sekedar Soal Kompetisi

Tetiba aku teringat akan ujian lisan pertamaku di fakultas kedokteran. Ujian lisan yang menjadi momok bagi semua mahasiswa baru saat itu, entah karena cerita senior-senior, atau mungkin karena ini memang ujian pertama yang hendak dihadapi oleh mahasiswa baru fakultas kedokteran. Baru delapan minggu kami kuliah sudah harus dituntut menjelaskan penyakit dan ilmu klinis dasar pada dokter-dokter nan bijak lagi berpengalaman itu. Dan tak lupa, harus dalam dua puluh menit kami jelaskan semuanya.

Sontak, semua sibuk bersiap. Ada yang siang malam tak keluar kamar sibuk membaca buku-buku tebal itu. Ada yang sibuk merapalkan kata-kata, umpama dukun yang sedang membaca mantra, kapanpun, dimanapun dan tak peduli entah ada siapapun.

Lantas tibalah saat-saat yang telah dipersiapkan itu hingga keluarlah hasilnya, ada yang menyunggingkan senyum bahagia. Ada yang lega dan hanya tersenyum tipis saja. Ada juga yang tertunduk sedih.

Semenjak sekolah menengah terbiasa bahwa hasil ujian ialah kompetisi yang sifatnya keras, terbawa juga hingga di kuliah. Masih ada rasa sedih saat nilai tak baik sedang yang lain baik dan kadang bahkan ada rasa senang jika nilai lebih baik daripada yang lain. Namun, kulihat seorang kawan yang entah mengapa begitu besar hatinya, begitu lapang dadanya, dan begitu besar jiwanya. Semuanya ia tanyakan dengan baik hasil nilai teman-temannya, lantas ia beri selamat dan semangat. Ia bekali sebisanya untuk yang belum lulus agar berhasil di ujian ulangan.

Ketika kutanya, jawabnya, "Sejatinya ini sudah bukan sekadar soal kompetisi lagi. Ini sudah soal kemanusiaan. Ini soal kedokteran. Tak ada tempat bagi ego disini. Wajah-wajah yang kita lihat di depan kita saat ini, baik yang saat itu lulus maupun tidak, bukan tak mungkin di masa depan akan menyelamatkan kita, orang tua kita dan oran-orang yang kita sayangi lainnya. Setidaknya merekalah yang akan menyelamatkan umat. Karenanya, kenapa kita tak optimalkan mereka, semangati mereka bahkan selamati mereka ?"

Aku hanya bisa tersenyum simpul. Teman ini, kutahu, ia akan jadi orang besar di masa depan. Aamiin ya Allah.

Kenangan ini yang kuingat saat melihat teman-temanku, yang dahulu membersamaiku memasuki fakultas kedokteran, di wisuda dan di sumpah. Tak dapat dipungkiri, ada pikiran-pikiran soal perandaian dan imaji akan waktu-waktu itu, andai saja ini, andai saja itu dan sebagainya. Tapi sekali lagi, harusnya diri sadar, laiknya ujian lisan dahulu, bahwa hal ini bukan sekadar kompetisi lagi. Ia lebih dari itu. Dan bukankah jadinya aku telah benar-benar memenuhi segala hasrat itu ? Dan segala roman soal perjuangan-perjuangan itu, tak peduli bagaimanapun beratnya, telah menjadi bagian dari hidup yang kudambakan, hidup sepenuh-penuhnya hidup.

“IN THE END… We only regret the chances we didn’t take, the relationships we were afraid to have,and the decisions we waited too long to make.” - Lewis Carol, Author of Alice's Adventures in Wonderland
Kemudian, teman itu berujar lagi, "apabila kita mendapati teman kita mendapat nilai yang baik, harusnya kita bangga, dan lega. Bahwa generasi dokter di masa depan kelak akan dapat melanjutkan tugas berat dokter-dokter masa kini. Amanah berupa kesehatan umat itu tak jatuh pada orang-orang yang salah." 

Sekali lagi, semoga keberkahan Allah terus mengalir kepadamu, Aamiin ya rabb. 

Dan kini, rekan seperjuangan itu telah benar-benar mengambil amanah itu, menanggung beban kesehatan umat, kesehatan bangsa. Mulut yang membuka mengatup membaca sumpah, gedung besar agung graha sanusi menjadi saksi, tak lupa malaikat di kanan kiri. Dan yang paling istimewa, ada orang tua serta keluarga mengharu biru dari belakang. 

Allah SWT berfirman,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab: 72).

Aku menyaksikan orang yang kucintai menjalani hidup memegang amanah itu, hampir seluruh hidupku. Baginya, tak ada alasan soal inkompetensi, tak ada alasan sedang istirahat, sedang bersama keluarga, dan sebagainya. Signifikansi dari sumpah itu amatlah besar. Detik menit terlalui semenjak sumpah terucapkan ialah detik menit pengabdian. Detik menit itu adalah soal kebermanfaatan. Maka, siapakah yang lebih baik dari kalian, wahai kawan, orang yang hidupnya, kerjanya memberi manfaat ?  :)

Bandung, sembilan November dua ribu lima belas.