Penghujung Senja Sang Pemanggul Generasi

Dan kita ternyata tak sepenuhnya mampu menjadi manusia.

Kita hanyalah fragmen kecil dalam semesta yang tiada pengaruh apa-apa. Kita ada diantara tiada. 

Apa-apa yang tersisa kan dilupa. Nama, karya pun jasa esok terkubur massa.

Tapi sesal menuntut di ujung senja.

Kita menjadi terjebak pada lika liku hal menyambung hidup, bukan mengisi hidup.

Sudah sejenak mari kita lepaskan cangkul, pulpen dan kertas-kertas itu.

Biar peluh punya waktu untuk meluruh,
dari punggung kurus nan kokoh.

Wahai pemanggul generasi. Tugasmu sedikit banyak telah usai.

Dari sulbi dan benihmu kan lahir,
penggantimu yang mungkin hampir sama mahir.

Kini mungkin sebentar lagi, Dia kan menanyaimu akan tugas ini. Adakah kita pernah niatkan untukNya ?

Atau ternyata kita terlena dan terlupa. Lantas sesal itu merangsek kembali.

Wahai pengembara ranah abadi, dari sini kami mendoa keselamatanmu nanti.

Akankah Ia ampunkan salah dusta kita waktu pagi ?

Apakah taubat kita belum terlambat ?

Kelak, kita pasti akan bertemu lagi. Kita akan berujung dalam ranah yang sama dalam keabadian.

Beristirahatlah dalam kesunyian. Bertenanglah hingga hari Nya kan datang.

Senja yang semakin kelam, menghantarkan bulan ke pangkuan. Dalam setiap senja yang berakhir esoknya fajar baru lahir.

Kepergian adalah keniscayaan. Selamat mengembara, wahai pemanggul generasi. Sekarang giliran KAMI.

Lakon Berjudul Jihad Khilafah

Soft opening dari salah satu kelompok teroris yang nantinya menjadi teroris terkaya di dunia ini pada April 2013 lalu awalnya cukup biasa saja. Tak mengundang banyak perhatian dunia. Namun saat kelompok yang dipimpin oleh mantan pimpinan Al Qaeda cabang Irak, Abu Bakr Al Baghdadi ini menaklukan kilang minyak di Suriah timur dan Utara, kemudian kota terbesar kedua di Irak, Mosul, yang juga salah satu pusat perekonomian Irak serta diikuti deklarasi menggelegar soal Kekhilafahan Islam dunia, maka dunia sontak terkejut dan megap-megap.

Deklarasi khilafah ini yang memberi lampu hijau secara 'syar'i' atas tertumpahnya darah ummat muslim yang tidak sepakat kepada mereka, diwujudkan atas terbunuhnya banyak muslim. Memanfaatkan situasi konflik di Suriah antara presiden Bashar Al Assad dengan oposisinya, kelompok yang bernama Islamic State of Syria and al Sham (ISIS) ini mengambil alih suriah utara dan timur dan meraih $900 juta dalam sekejap. Bahkan beberapa berkata hingga $2 miliar. Semua pihak dibunuhinya, baik tentara pemerintah maupun oposisi. Menambah daftar panjang korban konflik di Suriah, setelah puluhan ribu sebelumnya yang meninggal.

Terbersit pertanyaan, darimana sebenarnya ISIS ini berasal ? Memang pimpinannya dulunya adalah Al-Qaeda namun kini ISIS menentang mereka. Dan juga sudah banyak rumor perihal Al-Qaeda adalah 'boneka' juga ternyata. Maka rumor serupa perihal ISIS juga ada. ISIS yang lahir pada masa invasi Amerika ke Irak turut mengundang curiga, bahwasanya ISIS adalah teroris rancangan Amerika yang dilatih secara khusus oleh CIA dan dibiayai oleh individu-individu super kaya di kawasan teluk. Tentara teror ini bertujuan untuk menggoyang kekuasaan negara-negara Arab dan menundukan negeri-negeri Islam.

Pola yang sama pernah terjadi di Afghanistan. Negara damai gang kemudian diinvasi Rusia untuk keperluan perang setelahnya diinvasi oleh Amerika untuk mengusir komunis (katanya), dan diduduki beberapa tahun namun saat Amerika pergi telah muncul ekstrimis-ekstrimis jihad yang memecah bangsa Afghanistan dan memimpin dengan kekerasan.

Gejalanya sama, pernah diduduki Amerika lalu muncul teroris yang (katanya) islam, lalu tetiba menguasai negara dengan kekerasan, lalu terjadi kerusakan citra ummat islam, dan setiap kemajuan dan kecerdasan selalu dipupus dengan kekerasan, kemudian berujung pada kemunduran ummat islam.

Ummat islam macam apa yang mencandu opium dan memperdagangkan opium sebagai penghasilan negara ? Juga ummat islam macam apa yang menumpahkan darah sesama muslim begitu mudahnya ? Begitulah kabarnya negara subur yang berada di selatan Himalaya itu kini.

Sedang tak jauh di negeri mulia para sahabat, berpegang pada hadits shahih yamg berbunyi,"barangsiapa mendatangi kalian sedang perkara (kepemimpinan) kalian telah bersepajat atas seorang pemimpin, lalu orang yang datang tersebut bertujuan untuk mematahkan tongkat ketaatan kalian atau memecah belah persatuan kalian, maka bunuhlah orang itu", maka dengan lancangnya sekumpulan oknum telah mendeklarasikan diri sebagai representasi ummat islam. Maka jika kita boleh bertanya kembali, apa semua ummat islam telah bersepakat atas oknum tersebut ? atau mereka tak mengganggap yang diluar mereka ummat islam ?

Kini ISIS telah sesumbar mengatakan banyak hal. Dengan kekuatannya mereka akan mengakhiri konflik Arab dan Israel, dengan khilafahnya mereka akan membawa ummat islam ke titik tertinggi di dunia. Seperti Afghanistan mungkin. Negeri yang (pernah) subur penuh damai dan cendikia namun kini diperintah dengan keras. Penduduknya kini menderita dan cacat akibat perang berkepanjangan, hanya mampu terduduk letih menunggui waktu sembari menghisap candu.

Khilafah islamiyyah, sebuah kesatuan ummat islam yang berpegang teguh atas Al-Qur'an dan Sunnah yang kita impikan dihancurkan citranya oleh kaum sekularis. Menggiring pemuda-pemudi kita menjauhi hakikat agamanya, terjebak pada agenda-agenda ritual saja bahkan bila jenuh atau kecewa dapat terjatuh pada atheisme.

Dalam lakon berjudul khilafah ini, sebagai ummat terbaik kita harua bangkit dan berhenti sekadar menonton saja. Ummat yang cerdas dan terpelajarlah yang akan menjadi dasar kebangkitan. Dan yang lebih baik daripadanya ummat cerdas, terpelajar, dan taat pada Al-Qur'an dan Sunnah. Takdir kita adalah usaha kita.

Tidak ada tanah yang pantas menjadi tanah airku selain Indonesia. Ia dibangun dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku. - Muhammad Hatta

Oligopoli Nilai Manusia

Terkadang dunia ini cukup aneh. Uang sebagai alat tukar telah menjadi parameter dan variabel terkuat didalamnya.

Begitu juga parameter lainnya yang secara kejam di generalisir oleh akademisi lulusan universitas terbaik sekalipun.

Kelulusan, jumlah gaji, indeks penilaian dan lainnya sudah jadi oligopoli dalam parameter nilai seorang manusia. Lantas, tanpanya apa manusia tak punya harga ? Apa ini semua telah menjamin penyelesian masalah pun terobosan spektakuler akan problema dunia ?

Jika iya, maka hendaknya harus adil dalam apresiasinya. Maka (mungkin) setiap yang lulus kuliah harus dihadiahi  upah atas usahanya, tak hanya kepuasan akademik semata. Setiap indeks prestasi terbaik (mungkin) harus diapresiasi dengan sejumlah uang yang mumpuni. Toh, katanya akan ada jaminan akan perbaikan dan penyelesaian masalah dan uang telah jadi parameter apresiasi terkuat saat ini. Karenanya tidak masalah tentunya.

Tapi nyatanya tidak. Ribuan lulusan universitas terbaik rerata menganggur setelah kelulusannya. Beberapa bahkan menjadi sopir angkot, berjualan pulsa, dan melakukan segala jenis kerja lainnya yang sejujurnya tak membutuhkan pendidikan bertahun-tahun di bangku perguruan tinggi. Lulusan-lulusan terbaik pun tak memberi jaminan akan solusi masalah bangsa. Tingkat kemampuan bersaing kita pun masih kalah jauh, ada 46 negara beserta jutaan penduduknya yang lebih baik dibanding kita di dunia ini. Dengan semakin majunya teknologi dan kemudahan akses, maka apa jaminan keuntungan geografis dan demografis yang kita miliki di Indonesia tidak akan membuat kita kalah saing dibanding jutaan pekerja dari 46 bangsa tersebut ?

Masalahnya adalah, dinamika manusia terlalu maju untuk dapat diukur oleh pengetahuan terkini saat ini. Kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan telah membawa miliaran manusia mencapai kesuksesan yang paradoksikal dibanding kondisi awalnya. Progresifitas perkembangan dan perubahan ini, meski telah banyak diteliti oleh psikolog dan ilmuwan-ilmuwan lainnya ternyata masih memiliki variabel-variabel yang luas. Yang tidak mampu mereka pastikan. Karenanya bahkan seorang yang hanya lulusan SMA kini menjadi orang terkaya di dunia. Karenanya seorang yang dulunya wiraniaga kini memiliki brand terbesar dan termahal di dunia bahkan membawanya menjadi orang terkaya nomor 3 di dunia. Yang kini membawahi ratusan juta wiraniaga lainnya.

Jikalau saya boleh sedikit religius, dan saya sungguh percaya bahwa seluruh kejadian ini telah direncanakan, dinamika ini adalah mozaik kehidupan yang jika sedikit saja ada perubahan didalamnya maka masa depan yang kita miliki akan berbeda, maka adalah kemahakuasaan yang mengendalikan ini semua. Bukan hanya sebuah kebetulan yang semata terjadi dan pada kebetulan itu kita ada didalamnya. Teorema ini adalah buah keputusasaan saat tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi serta ketidakmampuan menerima bahwa manusia bukanlah yang entitas terkuat dan paling berpengaruh dalam jagad raya ini. Kemahakuasaan itulah yang menjadi variabel tak terkendalikan oleh kita.

Dinamika manusia ini adalah bagian dari kuasaNya. Ide dan pemikiran yang kita anggap spektakular itu datang dari kejadian-kejadian yang direncanakan. Buku yang kita baca, artikel yang kita lihat, jurnal yang kita pahami, info yang kita dengar, dan fakta yang kita amati, seluruhnya yang tertanam menjadi ingatan suatu saat akan berasosiasi saat menemukan momentum yang tepat-yang juga merupakan buah dari sebuah kejadian.

Jadi, masihkah kita hanya percaya pada oligopoli penilaian tersebut ? Masihkah kita, yang tak melihat keseluruhan entitas manusia, menilainya dengan penilaian parsial semata ? Jika iya maka harus siap juga dengan konsekuensi apresiasinya. Kita memang tak mungkin menilai secara keseluruhan, tapi yang sebaiknya kita lakukan adalah menilai secara bijak dan pastikan kita menggunakan waktu yang cukup dalam penilaiannya.  Dan tak lupa memperhitungkan kemungkinan perkembangan dan progresifitas tiap manusia serta faktor kemahakuasaan juga.

Jalan Sepi Para Pejuang

Penduduk dunia ini terus bertambah. Bertambah banyak hingga ada manusia yang tinggal berdesakan dalam petakan 2x2 meter sahaja. Namun kuantitas yang mumpuni ini ibarat buih di lautan. Jalan juang tetaplah sepi. Di jalan juang yang panjang dan terjal ini, menjaga kewarasan adalah tugas tersulit terlebih bila tak ada kawan seperjalanan yang dapat mengingatkan.

Dalam lulusan universitas terbaik, mari kita hitung yang benar-benar terdidik dan terajar. Mari kita cari seberapa besar mereka yang terdidik sehingga mampu memahami ilmu yang telah ada bahkan membuat gagasan cerdas untuk pengetahuan terbaru. Juga  sejatinya seberapa banyak kalangan psuedo-terdidik hanya membebek saja atas pengetahuan yang telah ada, hapal saat dibutuhkan dalam pengujian-pengujian, namun lupa kembali saat tak lagi ada keperluan pengujian ?

Jika ada yang mempertanyakan kenapa lulusan perguruan tinggi banyak yang menganggur maka jangan salahkan perguruan tingginya saja, ada porsi kesalahan semenjak sekolah menengah bahkan sekolah dasar. Semenjak kecil telah terbiasa dididik dengan di'suapi' ilmu pengetahuan tanpa pernah belajar 'menyuap' sendiri ilmu pengetahuan tersebut. Saya rasa tugas terbesar seorang guru adalah menginspirasi siswanya agar tertarik dan menyukai apa yang akan dipelajari. Maka setelahnya adalah kerja mudah dalam membaca, memahami dan mengaplikasikan pengegahuan dari buku-buku bahkan setelahnya bisa terbersit pertanyaan kritis akan pengetahuan yang telah ada serta memformulasikan hipotesa baru. Jika hanya membacakan apa yang tertulis di buku, merapalkan dan menguji, maka kita cukup butuh juru tulis dan lulusan sekolah menengah, bukan guru. Rasanya juga para pendidik mungkin bisa belajar soal 'golden circle' dari simon senek. Teorema yang telah diaplikasikan oleh perusahaan-perusahaa  internasionala seperti apple. Yang apple jual buat hanya sekadar feature-feature terbaik dari produk mereka, tapi yamg mereka jual  adalah inovasi. Mereka menjual urgensi seseorang untuk membeli barang mereka. Bahkan sebuah urgensi yang dapat secara signifikan mempengaruhi kehidupan. Itulah kenapa mereka amag sukses dengan ipad padahal gadget sejenis telah dikeluarkan oleh pda beberapa tahun sebelumnya. Tapi bahkan tidak ada yang tahu atau mengingatnya. Jikalau saya lihat, pendidikan kita tak mampu menarik perhatian mayoritas siswa. Sebagian kecil memang berbeda dan istimewa dari segi pemikiran namum sebagian  besar terjebak dalam paradigma pekerja. Tanpa inovasi maka perbedaan dokter bedah dan tukang daging bisa jadi hanya lisensi. Tanpa gagasan perbedaan lulusan universitas dan pengangguran tak sekolah hanya ijazah.

Namun jika ditelusuri lebih lanjut, ada yang salah juga (mungkin) saat guru-guru itu dididik untuk menjadi pendidik. Cara yang sama telah diajarkan pada mereka. Keterjajahan pemikiran belum lepas meski (katanya) penjajah telah meninggalkan kita 51 tahun yang lalu. Pemikiran terjajah telah mendarah daging bahkan diwariskan kepada generasi setelahnya yang tak kenal penjajah secara fisik. Kemerdekaan berpikir memang lebih mahal dibanding utopia kemerdekaan itu sendiri. Tugas berat perjuangan yang diemban generasi baru saat ini adalah melakukan perubahan paradigma, membiasakan inovasi pada mayoritas pemikir yang takut pada perbaikan karena kenyamanan, dan siap untuk tidak populis dan diserang bahkan oleh orang terdekat sendiri. Saat ini mereka adalah pejuang yang zaman ini butuhkan. Dalam sunyi terus bekerja membawa perubahan, tak takut berbeda, tak takut berjuang meski sendiri.

Itulah hakikat perjuangan masa kini. Paradoksikal unik dimana dalam keramaian dunia ini tersisa jalan yang begitu sepinya. Teman sejati dan seperjalanan adalah hal yang langka sdan mahal. Persimpangan jalan terus terjadi dan memang begitulah hidup ini. Lahir dan datang sendiri kemudian akan kembali pada kesendirian. Berteman tanah bermandikan karbon dam nitrogen yang mengendap bersembunyi dari matahari.

Kita yang tak pernah menanamkan apa-apa maka kita tak akan kehilangan apa-apa. - Soe Hok Gie

Maka adalah sangat beruntungnya kaum terbaik terdahulu, generasi sahabat yang menempuh jalan juang beramai-ramai. Dipimpin oleh Rasulullah, menggenggam dunia bersama sembari memenangkan Allah di hati-hati mereka. Maka usaha kita adalah membeli teman sejati yang mahal dan langka itu dengan usaha kita. Terus teguh berjalan di setapak yang lurus dan apabila konsistensi ada di sisi kita maka suatu saat mereka yang bersimpang akan menemani kita kembali. Di jalan yang panjang, terjal, dan sepi ini. InsyaAllah.

Serangan Atas Ilmu Pengetahuan


Politik kata aristoteles adalah sebuah komunitas. Politik adalah tempat berinteraksinya populasi-populasi berlainan untuk kepentingan. Dibanding menyorot politik laiknya mesin, ia lebih suka berpandangan organik. Politik ibarat organisme, yang setiap bagiannya berkesinambungan satu sama lainnya. Satu dengan lainnya seberapapun berbedanya sejatinya saling membutuhkan. Sesederhana seperti realitas ekstrim sekuat apapun pihak yang menang tetap harus ada pihak yang kurang kuat untuk kalah. Namun baiknya, ia juga tegaskan selain saling membutuhkan, konsep komunitas ini adalah kepentingan bersama dalam bentuk partnership. Namun sejarah sepertinya tak melulu menafsirkan kata ‘bersama’ disini dengan ‘semua’. Ya. Kepentingan bersama tak harus untuk seiring dengan kepentingan semua. Seperti yang diajarkan bangsa Yunani pada kita akan sistem-sistem politiknya.

                Pun sejarah yang umumnya dikenal tidak banyak berpihak pada hasil baik peradaban manusia, karena memang cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini. Seperti kata sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer barusan. Tapi bukan berarti manusia semenjak pra sejarah hingga kini tak kenal cerita senang soal mereka dan politiknya. Terus dilantunkan dalam Al-Qur’an, sunnah, sirah dan sejarah-sejarah kebesaran kegagahan kepahlawanan masa dahulu, di Indonesia sekalipun. Mungkin tak asing ditelinga kita kisah gagah kesantunan berpolitik Muhammad Natsir dengan DN Aidit yang sejatinya musuh ideologis nomor satu sang punggawa masyumi itu begitu pula dengan Aidit sang pemimpin partai komunis. Persahabatan, dukungan serta solidaritas Muhammad Natsir dengan Johannes Leimena dari partai kristen Indonesia yang tak putus hanya ketika berpolitik hingga terus bersantun sampai renta. Kisah soal kerendahan hati mayoritas panita persiapan kemerdekaan Indonesia atas kurang senangnya pihak non muslim atas bunyi sila satu di awal juni 1945 lalu, lalu mereka mengubahnya meski tetap mereka punya hak dan berkemampuan. Tapi mereka mengubahnya demi tenang hati saudara setanah air namun beda iman itu.

                Memang banyak hal menarik jika kita benar-benar mengetahui sejarah. Bahkan hanya sejarah negeri ini sahaja. Namun bukan itu fokus tulisan ini saya maksudkan. Dewasa ini, demokrasi memang telah menjadi dasar pemerintahan di hampir seluruh negara di dunia. Penemuan yang kata banyak pertama kali berasal dari Yunani ini telah begitu banyak berpengaruh atas jatuh bangunnya dunia hingga abad XXI. Demokrasi memberi kuasa bagi sesiapa tak peduli preman atau professor akan nasib bangsanya. Meski pada akhirnya demokrasi akan mengakibatkan perbedaan-perbedaan pada masyarakat makin terang bahkan cukup kuat untuk menyatukan dalam sebentuk golongan yang membela kepentingan masing-masing perbedaan tersebut. Yang sayangnya makin kemari cenderung mengikis kecerdasan pihak-pihak didalamnya dengan irasionalitas, fanatisme dan subjeksinya.

                Sebelum jauh-jauh berbicara pada politik dengan skala kenegaraan, sejatinya politik dalam kampus dapatlah menjadi miniatur dan acuan politik masa depan negara ini. Dalam argumentasi barusan, sejujurnya muncul pertanyaan. Apakah politik kampus yang mempengaruhi politik kenegaraan di masa depan atau politik kenegaraan yang justru kini mempengaruhi politik kampus ? jika asosiasi pertama yang berlaku, maka politik kenegaran di kemudian hari ada kemungkinan untuk berubah, entah lebih baik pun buruk. Jika asosiasi kedua yang terbukti, maka politik kedepannya akan sama sahaja seperti sekarang ini. Beralasan bahwa politik kampus adalah bayi yang dirawat oleh politik kenegaraan yang telah dewasa. Sebagaimana teorema perkembangan, dan teori bloom bahwasanya lingkungan amat berpengaruh terhadap prospek masa depan seorang ‘bayi’.

                Karena saya tak dapat menemukan referensi yang sesuai untuk jawaban kebingungan saya diatas, maka marilah kita sekedar membahas dulu bagaimana situasi dan kondisi politik kampus masa kini. Dengan tahunya kita realitasnya maka dapat terbayang prospek masa depan bangsa dengan asumsi manapun akan asosiasi diatas.

                Dalam 4 tahun kemahasiswaan ini, dua kata yang dapat saya ungkapkan atas politik kampus adalah solidaritas atau impulsivitas. Hanya ada dua kemungkinan keberjalanan politik kampus saat ini tampaknya, yang pertama atas hasil kerja solidaritas. Atau kemungkinan yang kedua atas hasil kerja perseorangan individu atas impulsivitas. Yang satu cukup bersistem sedang yang lain cukup bertokoh. Solidaritas disini dimaksudkan ialah kemahasiswaan yang dibangun atas kepentingan bersama sebuah golongan. Namun tidak baik berstigma negatif terlebih dahulu. Ada kalanya kepentingan bersama dapat didefinisikan kepentingan semua. Namun ada kalanya jua tidak. Saat kepentingan bersama berarti kebermanafaatan bagi sebahagian namun kerugian bagi yang lainnya.

                Jalannya kemahasiswaan kampus yang saya amati amat dominan peran sisi solidaritas ini. Sebuah solidaritas mahasiswa demi tujuannya, yang beberapa mengatakan mulia, meski yang lain belum tentu sepandangan dan setuju sahaja. Solidaritas ini mengusahakan visinya tercapai dengan beberapa cara. Secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung, dengan menstimulus untuk berpikir dan beramal searah dengan visi solidaritas. Selain itu biasanya solidaritas telah menginfiltrasi sistem kaderisasi kemahasiswaan, sehingga visi-visi tersebut dapat diintegrasikan pada program kaderisasi. Sehingga hasil-hasil kaderisasi, dengan rasionalisasi solidaritas itu atas visinya, dapat berpikiran searah tanpa musti solidaritas itu turun langsung.

Namun ada juga saat-saat dimana tidak ada cara lain selain harus solidaritas itu turun langsung. Namun bukanlah perkaran instan dan sederhana. Tiap-tiap pribadi dalam solidaritas telah dididik sedemikian rupa agar siap dari sisi visi maupun kompetensi menjalankan pemerintahan kampus. Dari amanah terkecil yang hanya berpengaruh pada sedikit bagian kampus hingga amanah terkuat untuk seorang mahasiswa dapat dipersiapkan. Dengan pemupukan pemahaman berkala dan terus menerus bahkan hingga mati akan visi dan tujuan solidaritas. Pribadi-pribadi itu setelah menyelesaikan amanahnya berkewajiban kembali turun untuk mendidik penggantinya untuk pemerintahan berikut. Begitu bersistem dan tertata rapi. Tidak bergantung pada ketokohan seorang yang memang telah baik semenjak awalnya, namun semua bahan mentah dipoles, diasah dan dipertajam dengan pengalaman-pengalaman yang terencana dan matang. Terencana di satu sisi dan responsif akan setiap masalah di sisi yang lain. Saya rasa, inilah salah satu bentuk manajerial kemahasiswaan terbaik dengan tingkat komitmen yang cukup tinggi mengingat remaja atau dewasa muda ditengah studinya yang tak jarang memakan waktu tidak sedikit diharuskan mengemban tugas berat kemahasiswaan. Tidak banyak yang dapat melakukan kerja terorganisir tak terputus seperti ini. Terlebih pada masa kemunduran kedewasaan saat sekarang ini. Secara sosiologis, manusia saat ini memang lebih lambat dewasa dibanding dahulu, yang diawal dekade keduanya biasanya telah menikah, mapan dan punya pekerjaan. Solidaritas ini tak jarang tereksternalisasi dalam kelompok/himpunan/gerakan mahasiswa dengan dasar ideologis tertentu. Mahasiswa nasionalis, mahasiswa liberalis, agamis dan sebagainya. Selain solidaritas ini, bentuk lainnya adalah impulsivitas seperti yang tersebutkan diatas. Dalam politik ini pemerintahan dijalankan oleh pihak yang tak memiliki kelompok apapun namun terpilih dikarenakan kecerdasannya, kompetensinya, pesonanya dan kriteria lainnya. Pihak ini biasanya menempa diri secara sporadis atau kadang terencana meski dengan regimen pribadi yang disusun sendiri. Pihak ini berkemungkinan menjalankan pemerintahan dengan baik asalkan memiliki kemampuan leadership yang mumpuni dan jejaring teman yang baik. Dengan demikian dapatlah jalan pemerintahan kampus dengan baik. Namun kekurangan terbesar politik ini ialah dari sisi kaderisasinya. Yang dibawa dalam hal ini adalah ketokohan yang hebat dari seorang mahasiswa. Belum tentu visi juga. Karenanya, akan sulit menciptakan mahasiswa dengan spesifikasi itu lagi untuk pemerintahan selanjutnya. Sehebat apapun meniru tak akan dapat lebih baik dibanding yang aslinya. Dan jika tidak lebih baik tentu pemerintahan mahasiswa dapat menurun. Sedang membentuk mahasiswa hebat berlandaskan visi yang sama lebih mudah. Karakteristiknya boleh jadi berbeda, pesonanya, kepemimpinannya tak harus sama, asal visi sejalan dan tujuan tercapai dengan metodologi yang sesuai dengan visi tersebut.

Solidaritas ini selain membentuk pemerintahan yang lebih stabil juga telah membantu menciptakan manusia-manusia mumpuni dikemudian harinya. Terlebih sebiah solidaritas yang menginfiltrasi seluruh aspek kehidupan kampus. Perkembangan memang dirasakan terkuat oleh anggota solidaritas, namun mahasiswa lainnya di kampus yang berada dalam pemerintahan kampus juga turut merasakan perkembangan atas integrasi visi solidaritas. Pasalnya, apakah perkembangan ke arah yang lebih baik atau buruk.

Dalam solidaritas ini, perjuangan keras bersama tak jarang menimbulkan kekaguman dan persatuan serta kekeluargaan pada anggota sesama solidaritas. Kesetiakawanan bahkan penghormatan akan senioritas tak jarang menjadi metodologi kaderisasi. Namun kedekatan ini dikemudian hari dapat berpotensi menimbulkan resiko subjektifitas. Laiknya terungkap dalam peribahasa,better the devil you know, seburuk-buruknya orang lebih baik yang anda kenal baik. Hal ini dapat berpengaruh pada kehidupan kemahasiswaan, karena dalam agenda-agenda kemahasiswaan, akan ada kecendrungan untuk solidaritas turun langsung dan menggunakan kadernya sebagai pemangku kebijakan kemahasiswaan. Tendensi ini terkadang diselubungkan dengan maksud untuk mendidik kader tersebut dengan amanah yang diembannya. Dibanding mahasiswa lain yang lebih siap dari sisi kompetensi, kepemimpinan pun manajerial. Ini salah satu alasan terbaiknya. Namun terkadang tak jarang tendensi ini bertujuan penguasaan total, oligarki politik, dan pembangunan imperium kekuasaan solidaritas. Tak jarang beberapa solidaritas lebih mengedepankan ‘orangnya’ terpilih dibanding nasib kemahasiswaan lebih baik. Jika dilakukan dengan cara-cara yang baik dan terhormat, maka silahkan saja. Kampanye akan kelebihan yang mumpuni, menarik perhatian dan cerdas. Kreatifitas dalam bertarung pada pesta gagasan dengan yang lain. Ini tidak masalah. Yang menjadi masalah ialah menggiring opini publik hingga membuat publik seakan membeli kucing dalam karung. Menutup fakta penting demi kemajuan kemahasiswaan bahkan terkadang berbohong. Dalam titik ekstrim bahkan memanfaatkan anggota solidaritas lain yang sedang berada pada posisi strategis untuk pemenangan.

Juga tak jarang biasanya keangkuhan merebak dalam solidaritas. Meski tak semua seperti ini. Dalam solidaritas ini terpancar semangat eksklusifitas dan pernyataan tidak langsung akan diri lebih baik dibanding yang lain. Lebih baik dibanding solidaritas lain atau mereka yang tak bersolidaritas. Subjeksi yang telah ada sebelumnya diperparah dengan fanatisme. Waham ‘pokoknya’ dikumandangkan, keabsolutan pada visi dan agenda solidaritas yang tak jarang menyebabkan benturan keras dalam kemahasiswaan. Fanatisme pada tokoh yang dikenal dibanding yang tidak dikenal dapat mengakibatkan pembelaan mati-matian tak peduli dosa tokoh dekat tersebut atau prestasi tokoh lain. Kurang lebih seperti yang terjadi dalam perpolitikan kenegaraan yang terjadi saat ini. Meski tidak semuanya.

Sejujurnya, tidakan tidak baik dampak dari solidaritas ini adalah sebuah serangan pada ilmu pengetahuan yang menjunjung tinggi rasionalitas. Terlebih dilakukan oleh pribadi yang tengah dididik oleh institusi ilmu pengetahuan. Mahasiswa. Sesungguhnya banyak politisi yang fanatis dan subjektif adalah lulusan perguruan tinggi. Karenanya, jika perpolitikan masa kampus tetap seperti ini sahaja, maka dapat diasumsikan perpolitikan masa depan akan tidak banyak berubahnya. 

L’histrorie se repete. Sejarah akan selalu berulang.
Dunia politik kampus harusnya mengajarkan penghargaan pada orang lain dan rasionalitas serta keadilan.Kelebihan gagasan orang lain  musti diapresiasi dan menjadi catatan bagi diri sendiri agar menjadi lebih baik. Bukan ditutupi atau didebat sekuat hati. Begitu juga kelebihan dari anggota solidaritas sendiri. Inilah rasionalitas. Namun terkadang kebanggaan dan harga diri terlalu rendah untuk dapat mengakuinya. Inilah potensi ancaman dari bentuk perpolitikan solidaritas. Namun bukan berarti tanpa penyelesaian. Masalah ini dapat diatasi dan ditangani dengan penanaman nilai-nilai keilmiahan dalam metodologi solidaritas tersebut.


Orang terpelajar itu musti adil bahkan semenjak dalam pikiran, kata penulis besar Pramoedya Ananta Toer. 

Dengan pengajaran perpolitikan kampus yang diperbaiki, maka kemunduran karakter politik bangsa ini dapat dicegah dan dibawa ke arah yang lebih maju. Laiknya ungkapan seorang ulaman, Hasan Al Banna, bahwa yang harus difouskan adalah persamaan, bukan pada perbedaannya. Dan belajar dari Muhammad Natsir dan DN Aidit, perbedaan pandangan bukanlah alasan untuk berpecah dan menjadi motif bermusuhan. Betapa indahnya kesantunan politik zaman dahulu diawal kemerdekaan Indonesia, sehabis berapi-api saling beradu argumen, kemudian naik sepeda berboncengan dan minum kopi bersama. Kedewasaan mental berpolitik sudah harus tertanam semenjak mahasiswa. Selain menghambat kemunduran kedewasaan secara sosiologis, juga untuk perpolitikan Indonesia yang lebih baik. Dan mahasiswa ialah salah satu komponen pentingnya, seperti yang diungkapkan oleh Phillip G Altbach, bahwasanya mahasiswa di negara berkembang hakikatnya punya peran besar disebabkan demokrasi yang belum berjalan dengan baik sepenuhnya. Fungsi representasi legislatif terkadang masih membutuhkan peran mahasiswa untuk menjembatani keinginan rakyat. Ya, siapa tak lebih baik daripada golongan terpelajar yang belum terlalu banyak dijajah globalisasi dan keburukan manusiawi selain mahasiswa.

Selain mengedepankan rasionalitas, sikap ramah dan kesantunan berpolitik adalah juga tetap harus dilestarikan atau bahkan dibangkitkan kembali. Globalisasi adalah pedang bermata dua, yang bukan tak mungkin tengah mendidik generasi saat ini dengan kebudayaan yang tak semestinya. Pun begitu dengan kemajuan teknologi. Akses berpendapat yang begitu bebas bahkan dapat diperdengarkan pada seluruh dunia dapat menjadi bumerang, terkhususnya pengguna terbesarnya kini sedang berada pada usia pembentukan karakter dan mental yang akan bertahan seumur hidupnya nanti. Tanpa filtrasi dan regulasi, maka bukan tidak mungkin ‘serangan’ terhadap ilmu pengetahuan diatas teramplifikasi bahkan lebih terorganisir dengan teknologi. Hingga mungkin suatu saat nanti dapat menjadi budaya dan peradaban. Karena pergeseran nilai terus terjadi dan tak sedikit yang menjadi budaya belakangan ini. Yang dulunya tabu kini adalah kebiasaan.

Globalisasi dan kemajuan teknologi sejatinya adalah pedang. Ditangan pecundang, ia hanya akan mengendalikan tuannya bahkan akibatkan kematian pada diri sendiri. Ditangan pemenang, ia yang akan dikendalikan. Yang dibutuhkan kini adalah mahasiswa yang dapat bergaul sebaik pergaulan bangsa barat namun juga sesantun dan seberadap bangsa timur. Akulturasi dan akumulasi kebaikan dari setiap bangsa akan menciptakan kemahasiswaan yang terbaik. Inilah idealnya kebutuhan masa kini. Bukan fanatis, bukan ketinggian hati dan keangkuhan solidaritas atau personal.

Di penghujung posisi saya sebagai mahasiswa, saya bertanya pada mereka yang membaca, apa kita tidak menghina jerih payah ilmu pengetahuan dengan subjeksi dan pembenaran ?

Pada sebuah malam yang sepi,

Bandung Juni 2014

Dalam Dekapan Ukhuwah

karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
wasiat sang Nabi itu rasanya berat sekali:
"jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara"

mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
menjadi kepompong dan menyendiri
berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

lalu dengan rindu kita kembali dalam dekapan ukhuwah
mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani,
sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

C'est La vie !

Academic Visit Program Report, 10th-14th of December 2012

Monday, 10th of December 2012
Place/Departments: Director Office Room and Dept. of Laboratory Science.
Today activity was started with introduction and asking for permission from the Director of Gunma University Hospital, Prof. Nojima. The delegations think that he was really friendly and give us some message to enjoy this program as good as we can. Then, we discussed about Japan’s health problem. In fact, the patient that come to the hospital mostly because of eye problem, especially degeneration induced-eye problem.



He also recommended us to visit to Dept. of Radiooncology so that we can get the explanation more about the heavy ion method that used for cancer treatment,the third in the world. After that, we taking a picture together before leaving, and say our gratitude of to him.

Then, the first department visit was in Dept. of Clinical Laboratory . We visited the outpatient and inpatient clinic. In the inpatient clinic,  we saw some nurses and laborarian was doing phlebotomy to the patients to get the blood sample, then after that we saw the transportation system machine with it’s own tract in the ceiling and that’s all done automatically. It went to the laboratory from procedural room and vice versa.

Then we went to the laboratory that divided to 6 division ; the hematological division, microbiological division, hormone test division,  etcetera. After the specimen arrive at each division, the laborarian then take it and place the speciemn in the machine, then the machine do the test. For the double checking, the laborarian also done the test manually to confirm. Then the data admit to the computer and server, and may be check by all of the computer in the hospital. For the specimen, each slide have it’s own barcode, so the specimen would not be replaced with other specimen. For the maintenance of the machine, once every months the technician check it. How great regulation system!

Then the head of Anesthesiology Department, Prof.Saito, took us to visit Pocari Sweat Factory. Actually, Prof Saito planned to taking us to the Defibrillator Factory that Gunma Prefecture famous for. But because of some reasons, we might not visit the factory. So then he took us to The Pocari Sweat Factory. We get the explanation about the process of making the products and the benefit of the products. We also entered their museum to see their period to period of Pocari Sweat production in several countries, including Indonesia. After that, the academic visit for the first day is over and at 18.30 we start the welcoming party.

Tuesday, 11th of December 2012
Place/Departments: Dept. of Internal Medicine, Dept. of Anatomy.
In Department of Internal Medicine, we met Prof.Kurabayashi, the head of the department from the Cardiology division. At first, we introduce ourselves and told prof Kurabayashi about the meaning of our name. Then we get lecture from Prof.Kurabayashi about ECG. The teaching method is attractive and focusing on the understanding of the main basic concept. Involving students to also think and participate, and the professor really apreciate the students thought. Never pointing and told the students wrong, but teach wisely and the students realise by themself of their mistake and knowing the truth nicely.


Then we visited inpatient ward, where the professor gave us several quiz and explanation. After that we visited the examination room, we saw the ECG, Automatic Blood Pressure etcetera. Then after that, the visit is done, we also gave the professor souvenir, Gambang and then we took picture.

Then, in The Department of Anatomy, we accompanied by assistant professor, Murakami-sensei. In the laboratory, we saw each group of students that consist of 4 students are learn from one cadaver that use for 3 months of anatomy class. Each cadaver have been scanned by CT Scan, and the information have been added to the server. Each group given one iPad. The group may access the CT Scan of their cadaver from the iPad, that with some application, they may saw the 3 dimensional picture of the cadaver from the skin, fascia, muscle, bone, even the vascularization, innervation and lymphatics. Then they compare it with the real body of the cadaver. The departement combine the conventional methods and the modern method.

After 3 months of anatomy class. Then the cadaver is cremated and buried. The funeral were held by the university and all students that attend the anatomy class also attend the funeral. The education process to implement the value of appreciation and reciprocation. Then after finish the visit, we giving the souvenir for the departement and not to forget taking picture together.

Wednesday, 12th of December 2012
Place/Departments: Gunma Prefectural Office, The Retirement Home
After we visited Gunma Prefectural Office and had a lunch with Prof. Koyama, we continued our activity to visit the Retirement Home which belongs to doctor Takao Nakura. The place has some buildings. The biggest one has 3 floors. The place was built 15 years ago. It has inpatient service and outpatient service. In Japan, which has high life expectancy, the number of elderly population is high. Unfortunately, because the children have to work, so the children cannot attend the whole time for look after their parents. The position of the every person is much respected in Japan. Every person respected well even though they have different in come or salary. So, there is no servant in Japan.  This kind of retirements home helped the children very much. Doctor Nakura organized his retirement home with “Homely Environment” Principe. It is aimed for the elderly feel this kind of place is like their home. This retirement home never drives out for the family who couldn’t pay. It is because it has been the social norm of this retirement for taking care the elderly even though the family couldn’t pay. The service of the retirement was done by the modern way but still using happy method with the well skilled nurses. The fee is about 110.000-120.000 yen per month.

            Our activities in the retirement home were very commotion and inspiring. The elderly was very spirit and happy for welcoming us. Even the elderly studied and prepared some of the words and sentences in Bahasa (Indonesian language) for greeting us. They presented a song for welcoming us. We also presented a song for them. Doraemon  song  in Bahasa. We also tasted some of the food which made by them. It was nice food. They also made some of the handmade souvenirs for us. It was very touching moment. We were directly remembered to our grandmothers and grandfathers. Some of the elderly cried and smile happily. We did it too.

Place/Departments: Dept. of Physiology, Student Presentation
Our activity began in Department of Physiology at 9 a.m. We had an honor to get explanation about tsunami issue and its impact to health from Prof. Koibuchi. It was so interesting topic for us because one of city in Indonesia also was destroyed by tsunami in 2006, and ,of course, diseases including PTSD, came out because of natural disaster. We were surprised that the city in Japan which susceptible for earthquake is nuclear center. Because of that, when there was earthquake, the impact was huge, such as increased endocrine disease and the risk of cancer. Besides, the foods from there was contaminated, so the economic development was interfered.

After the lecture, we went to another rooms to saw activity of this department. There was dr. Roni, our senior, guided us and explain the research activity in this department. We saw rats which will be research subjects, and, of course, sophisticated microscope, centrifuge machine etcetera.

In the afternoon, we had discussion time which was started at 16.00. Gunma delegates explained us about health issue in Japan and education program in Medical Faculty of Gundai. The presentation gave us a lot of information, such as the serious health problem in Japan, cancer and aging. Infectious diseases is not a problem, not like in Indonesia, because the people do aware about hygiene and can prevent transmission. After that, it’s time for our turn to give explanation about health issue of Indonesia, and national insurance system.

Although there weren’t so many students who came to the discussion, because they had to prepare for exam in the next day, we were still enthusiastic to promote Indonesia through the video we presented. Issue about insurance system that will be held in Indonesia in 2014 was interesting too, because in Japan actually the system is similar. Precentage of the coverage is 70%, and the citizen need to pay 30% of the cost if they got sick.

After that, in the afternoon we had a  farewell party with professors, lecturers and students in student centre of Gunma University.


Friday, 14th of December 2012
Place/Departments: Dept. of Neurosurgery and Dept. of Radiooncology

The Department of Neurosurgery allowed us to visit the surgery room. After we changed our surgery dressing, we went upstairs to the surgery room and met doctor Hirato and Tosaka. The neurosurgery team were doing decompression surgery of a man that has a neuropathy because of the compression of the cervical vertebrae. The surgery has proceed about 2 hours and expected to finished about 3 hours later. They were opening slice by slice of the patient’s tissue to reach the compressed vertebrae, after they shifted laterally the esophagus, trachea and other vital artery, nerve and vein. Everyone just so interested and amazed with the neurosurgery team.


            Beside that, we allowed to show the other room that were doing surgery for a man that has an occlution of the basillary artery. We used protection vest also for prevent the radiation. We saw how they enter the surgery kit to the artery from monitor of operation room, it was exploded so that the vessel can be opened and blood flow well again.

The last department was The Department of Radiooncology. This department provide the sophisticated medicine technology for cancer treatment with the best precision nowaday, that mostly use particle carbon. Before we allowed to sightseeing around the facilities of this department, we got a lecture about radiology principle and method from Prof. Ken Ando. We also get a lecture about the comparison between heavy ion with another cancer treatment method such as using proton.


After lecture, we walked around to see the facilities for radiological examination, from X-Ray, CT Scan, MRI, until finally we saw Heavy Ion machine itself that in research progress to developed so that it can treat cancer slice per slice as scanning movement. How amazed we are!

The department visit was over today. And in the afternoon we had a pasta party with Department of Public Health as a farewell party also because today was our last day in Gunma Prefecture on that time.

It was really unforgettable moment. We hope we may see each other again, may destiny meet us all. And, the last but not least, 




             C'est la vie ! :)