wa-idzaa massa al-insaana aldhdhurru da'aanaa lijanbihi aw qaa'idan aw qaa-iman falammaa kasyafnaa'anhu dhurrahu marra ka-an lam yad'unaa ilaa dhurrin massahu kadzaalika zuyyina lilmusrifiina maakaanuu ya'maluuna
[10:12] Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo'a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo'a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.



Terinspirasi dari sebuah film, berjudul Negeri 5 Menara, yang shootingnya dilakukan disebuah pondok pesantren yang terkenal seantero Indonesia. Pondok Madani Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. 


Dalam film itu, di sebuah gedung tertera sebuah tulisan besar yang dapat terlihat dan terbaca oleh mereka yang melewatinya meskipun dari jauh, tertulis, "Ke Gontor, Apa yang kau cari ?"


Bandung adalah tempat yang jauh. Apalagi Jatinangor. Sebuah tempat yang belum pernah terdengar gaungnya di tempat asalku, Padang. Saat datang kesini, jutaan mimpi terpikirkan, ribuan ambisi ingin dicapaikan, dan ratusan cita disematkan. Ingin itu, ingin ini banyak sekali. Ya, sejatinya, aku benar-benar ingin menjadi seorang dokter yang berbeda.

Mulanya, aku terinisiasi menjadi seorang dokter yang cinta daerah. Sungguh begitu banyaknya dokter di kota besar dan kenapa mereka tak ingin mengabdi di daerah ? 

Rezeki kah ? 

"Gaji memang dari pemerintah, tapi rezeki tetap dari Allah" - dr. Nurmatani Sp.PK September 2011, OPPEK Megakaryocyte FK Unpad.

Ya, seharusnya tidak usah meragukan rezeki yang kan didapat. Menurut pendapatku, saat menjadi dokter di daerah, harusnya bisa mendapatkan penghasilan yang lebih. Kenapa ? karena saat di daerah, anda menjadi dokter yang spesial. Dokter yang hampir selalu jadi pilihan utama. Dan saat ini berkembang otonomi daerah yang memungkinkan daerah dapat lebih berkembang lagi dan lebih maju dengan kemandiriannya mengatur daerah sendiri. Daerah yang semakin berkembang seharusnya jadi incaran untuk dokter-dokter baru, kalau memang tujuannya materi. Kompetitor yang sedikit juga jadi bantuan untuk dokter-dokter tersebut. Bayangkan jika seorang dokter baru harus bersaing dengan puluhan bahkan ratusan dokter yang bahkan tingkatannya telah menjadi profesor atau yang terbaik dibidangnya. Dalam teori Ekonomi, jelas bahwa dengan     diri yang masih inferior dihadapkan kompetitor yang selain kuantitasnya besar juga kualitasnya tinggi harusnya meninggalkan lapangan pertarungan itu. 

Lihat apa yang ditawarkan daerah, kuantitas kompetitor yang kecil, kualitas yang merata, serta penawaran fasilitas dari pemerintah daerah. Untuk sebuah daerah di Sumatra, untuk menarik dokter-dokter khususnya spesialis datang ke daerah, maka PEMDA setempat menyediakan fasilitas mobil dinas yang terbilang mewah, rumah dinas yang nyaman, dan walhasil, lihat sendiri jika tidak percaya, seorang dokter yang pada awalnya datang dengan mobil pinjaman orang tua, setelah 1-2 tahun telah bermobil lima. Ini Fakta. 

Baik, rezeki terselesaikan. Lantas, apa lagi yang membuat mereka alergi dengan permai dan asri-nya daerah yang tentu masih alami serta jauh dar pengaruh emisi. Fasilitaskah ?

Otonomi daerah, seperti yang telah diutarakan diatas, menjadikan daerah ibarat sebuah "negara berkembang", yang disana kaya alamnya, berkembang manusianya, dan lapang lahan kerjanya. Perkembangan ini memang bersifat relatif, bergantung pada putra asli daerah yang tentunya menjadi pemegang tampuk kepemimpinan. Namun, dalam pengamatan pribadi, paska otonomi, dalam 5 tahun sebuah rumah sakit yang awalnya bergantung pada pemerintah seutuhnya, dapat menjadi rumah sakit Swadaya. 7 tahun berikutnya, mempermegah diri dengan fasilitas mumpuni dan bahkan menyaingi rumah sakit provinsi tipe B. Dan saat ini, dokter spesialis berebutan ingin bekerja disini. Fasilitas ? Biar waktu yang menjawabnya.

Dengan jadi dokter yang rela mengabdi didaerah, kita juga bisa mendapatkan kemampuan yang lebih. Dokter di daerah dapat setingkat dokter spesialis. Dokter spesialis dapat setingkat dokter subspesialis. Perawat dapat setingkat dokter. Dan bidan dapat setingkat dokter spesialis kandungan. Ya, keterbatasan mengajarkan mereka. Saat keadaan darurat, maka mau tidak mau, keputusan harus diambil. Tindakan harus dilakukan.

Dengan jadi dokter di daerah, kita sekaligus dapat menjadi community developer, yang bisa mendorong berkembangnya masyarakat dan daerah tersebut. Kita dapat menjadikan rumah sakit sebagai pengembang khususnya dalam hal kesehatan. Setelah kesehatan diraih, produktifitas daerah dapat membaik juga. Yang berujung pada produktifitas bangsa. Jadi artinya, tenaga kesehatan adalah salah satu titik awal untuk memajukan bangsa. 

Bandung, 8 Juni 2010, seorang anak muda dari daerah seberang, membuat pergolakan besar dalam hidupnya. Dalam sebuah rumah makan Padang, dengan kegalauan, setelah diterima di 2 Fakultas Kedokteran di Indonesia, Universitas Andalas dan Universitas Padjadjaran, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, anak itu memilih meninggalkan zona nyamannya. Anak itu memilih menantang dunia, mendaki puncak tantangan, menerjang kerasnya karang kehidupan, menggoda mara bahaya, dan menaklukan malam dengan jalan pikiranku. Aku ingin mencari jalan atas semua keresahan-keresahan dan kegelisahan manusia. Aku ingin menghirup rupa-rupa pengalaman dan terjun bebas menyelami lautan kenangan. Aku ingin ke tempat yang jauh, menjumpai bahasa yang tak kukenali dengan budaya tak ku ketahui. Berkelana membaca bintang gemintang, mengarungi padang kesabaran, gurun kehidupan, limbung diterpa angin, melepuh dijilat matahari, menciut dicengkram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan. Aku ingin bermimpi dalam hidup, bukan hidup dalam mimpi ! Aku ingin memecahkan teka-teki yang tak satu setanpun tahu. 

"Aku ingin jadi seorang dokter yang mengabdi pada daerah. Dokter dengan efektifitas mendekati sempurna. Dokter yang totalitas menolong pasiennya tanpa diskriminasi, menolak ketidakadilan dan ego dalam hati. Dokter yang menjawab kegelisahan orang-orang malang diluar sana. Aku ingin jadi dokter tidak hanya terkembang otaknya namun juga hatinya. " Aku ingin jadi dokter. 

Langit Soekarno Hatta yang begitu cerahnya, terus kumimpikan dalam setiap kesempatan. Malam yang dingin dan tumpukan buku ladang ilmuku, menemani tiap malam perjuangan di beranda kamarku. Terus berpikir, bahwa saat ini, seluruh siswa kelas 3 SMA di Indonesia adalah sainganku. Mereka tentu belajar lebih banyak dan lebih baik. Semangat itu terus mendorong hingga tercapailah salah satu mimpi itu. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Mimpi, aku datang !

Namun, semua berubah ketika fakultas kedokteran lambat laun datang menyentuhku, menyebarkan pengaruhnya tanpa kusadari.  (bersambung)