"Tugas lab dikumpulkan ya, minggu depan", perintah dosen lab tiap minggu.

"Ah, bisa dikerjain sehari sebelumnya, gampang", sebut Badrul, 19 tahun mahasiswa tahun keempat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Sehari sebelum lab, Badrul pun kebingungan karena tugas ternyata begitu banyaknya dan akhir kata, Badrul menyalin catatan temannya. Dan hal itu dilakukan dengan kecepatan yang mengagumkan dan kemampuan yang tak terbayangkan, yang bahkan tak muncul saat-saat waktu biasa.

Apa yang terjadi pada Badrul, bukanlah pengalaman atau kebiasaan satu dua orang. Taklah sedikit calon-calon dokter yang terhormat itu melakukannya. Mereka sepakat menamainya 'Lasut'

'Lasut' konon berasal dari bahasa Sunda, yang dengan beberapa menit menggunakan Google, berarti Kalah. Hal ini sungguh membingungkan saya.

Dari beberapa situs rujukan, muncul juga istilah 'the last minute Syndrome'. Last minute syndrome adalah istilah psikologis dimana manusia akan semakin bersungguh-sungguh saat waktu batasan atau deadline semakin mendekat. Sayangnya, perilaku ini dapat saya sebut sebagai kebiasaan bangsa. Ke'lasut'an ini telah jadi budaya yang mengakar dalam kehidupan bangsa Indonesia yang tercinta ini.

Fenomena ini adalah penghambat kemajuan dan pemupuk keterpurukan. Sehebat apapun satu-dua orang inovatif Indonesia dengan ambisi dan usahanya, tetapi objek usahanya, rakyat Indonesia tak menjawab dengan kemampuan termaksimalnya, maka perubahan itu takkan terjadi. Indonesia kan sulit untuk bersaing dan maju, dan terperangkap dalam kesengsaraan dan keterpurukan.

Kembali lagi pada Badrul dan Mahasiswa 'eF-Ka'. Ke'lasut'an seorang mahasiswa terimplikasi pada kemalasan. Kemalasan kan menyebabkan tidak maksimalnya penyerapan ilmu. Ilmu yang kurang terserap, kan berujung pada Dokter yang pas-pas-an, pastinya bukan dokter yang menyediakan kemampuan terbaik untuk rakyat Indonesia. Kebermanfaatan dokter untuk masyarakat keseluruhan jadi masih memprihatinkan.

Faktanya, Masyarakat Indonesialah yang sebenarnya menyekolahkan kita.

Kenapa ?

Sekarang coba kita hitung-hitung, berapa sebenarnya seorang mahasiswa 'eF-Ka' mengeluarkan biaya untuk kuliahnya ?

Untuk lulusan SNMPTN, uang masuk itu 6 juta rupiah saat semester 1. Kemudian, uang semester-an 2 juta rupiah, begitu terus hingga semester 7. Jika ditotal, 3,5 tahun kuliah mahasiswa 'eF-Ka' itu mengeluarkan biaya Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) hingga gelar S.ked.

Untuk lulusan SMUP, uang masuk sekitar 175 juta minimal, ditambah uang semseteran 2 juta rupiah juga, jika ditotal 3,5 tahun kuliah, mengeluarkan biaya Rp 195.000.000,00 (seratus sembilan puluh lima juta rupiah).

Oke, itu jumlah yang cukup banyak. Sudahkan jumlah-jumlah itu mencukupi untuk menutupi pembiayaan mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran ?

Fakta, ternyata seorang mahasiswa 'eF-Ka' itu dibiayai sebesar 35 juta rupiah per semester oleh negara, yang notabene merupakan uang rakyat.

Jika dihitung-hitung lagi, untuk mahasiswa SNMPTN, dibiayai sekitar 225 juta untuk 3,5 tahun, setelah dikurangi 20 juta. Mahasiswa SMUP dibiayai 56 juta untuk 3,5 tahun, setelah dikurangi juga tentunya dengan 195 juta rupiah.

Ini bukanlah hibah semena-mena. Uang ini bukanlah diniatkan untuk cuma-cuma. Dengan masih ada sekitar 35 juta orang berada dibawah angka kemiskinan, dibawahnya miskin, uang negara tetap dialokasikan untuk mahasiswa 'eF-Ka'. Ini adalah investasi, investasi untuk masa depan Indonesia. Mereka rela, berlapar-lapar agar kita bisa belajar dan bekerja. Mereka rela, tak bermasa depan agar kita ambisi dan impian kita terpenuhkan. Itu semua dilakukan, agar investasi ini dapat menghasilkan keuntungan atau manfaat di kemudian hari. Namun, benarkah manfaat itu kan didapat ?

Dengan ke'lasut'an bangsa, dan kurangnya kepekaan dan kesadaran, akankah kebermanfaatan itu kan didapatkan ?

Dosakah kepercayaan pertaruhan ibu Pertiwi untuk kita dijawab dengan ke'lasut'an ?

Dan saat ke'lasut'an itu telah terobati, hingga akhirnya terwujudlah dokter yang mapan dan cerdas, akankah kecerdasan itu menyentuh rakyat-rakyat yang selama ini membiayainya ?

Jawab dengan tindakan.



Fajar Faisal Putra
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran 2010a