Waktu itu kami sedang menjalani proses pendidikan profesi di sebuah rumah sakit di kota Bandung. Kami temui pengajar dokter-dokter spesial(is) yang amat jauh terpaut usianya dengan kami, namun masih saja rela membimbing kami dan teman-teman yang ibarat baru lahir kemarin sore. Dan yang kami sukai, betapa pengalaman mendewasakan dan kebijaksanaan mengajarkan kami jauh lebih berkesan dibanding segala metoda-metoda menuntut ilmu lainnya. Beliau mengajarkan kami dengan cerita, dengan kisah dan dengan teladan. Maka, bukan soal menggurui, bukan soal sok tahu, apalagi menghakimi, kami hanya hendak sedikit membagi kisah yang menjadi inspirasi kami hingga detik ini. 

#Saat Tahu Kapan Waktu itu Datang

Ia adalah pria yang tampan. Badannya pun tinggi semampai lagi bersih. Kemudian dari caranya berbahasa lagi berbicara dapatlah semua yang mendengar ketahui dasar pendidikannya yang tinggi. Dan yang paling istimewa, dari kesantunannya terhadap lawan bicaranya, maka kita ketahui bahwa ia berasal dari keluarga baik-baik, insyaAllah. 

Sudah lima hari ia ada di rumah sakit itu. Suatu hal yang amat aneh sejujurnya. Merokok tak pernah apalagi menenggak alkohol. Maka jangan tanya soal obat-obatan terlarang. Amal shalihnya terlihat saat setiap hari berkunjung. Dan jika kami tidak salah ingat, ia telah mapan dan bekerja di sebuah perusahaan di kota itu, kotanya Muhammad Thoha sang pembakar semangat. Namun saban hari yang lalu, darah termuntahkan dari mulutnya. Sontak rekan serta keluarganya amat kaget akan kondisinya. 

Hari itu adalah hari keluarnya hasil pemeriksaan darahnya soal insiden yang belum lama terjadi itu. Kebetulan sang istri serta anaknya belum hadir di rumah sakit saat itu. Tetapi guru kami sudah. Ia segera beranjak ke tempat tidur pria itu untuk memberitahukan sebuah kabar padanya. Kabar buruk rupanya. 

"Pak, selamat pagi. Bagaimana tidurnya semalam, bisa tidur ?"

"Pagi dok, Alhamdulillah bisa tidur nyenyak dok. Meski dini hari sempat terbangun juga dok."

"Alhamdulillah. Bagaimana kondisinya pak, apa masih ada keluhan ?"

"Alhamdulillah tidak lagi dok. Tidak ada lagi muntah darah dok."

"Baiklah kalau begitu pak. Punten, pak, saya baru saja menerima hasil pemeriksaan darah bapak. Hasilnya baru saja keluar."

"Iya, bagaimana dok hasilnya ?"

"Sebelumnya, apa bapak mau saya beritahukan setelah seluruh keluarga datang atau mau saat ini saja ?"

Pria itu terdiam cukup lama, sedang guru kami bersabar menunggu. Pandangannya jauh ke depan. Namun tak lama, ia kembali menoleh pada guru kami. 

"Hasilnya tak baik ya dok ? Ya sudah dok, tidak apa sekarang saja."

Guru kami hening sejenak, menarik nafas lalu menghelanya pelan-pelan. 

"Pak, dari pemeriksaan, kami temukan ternyata bapak menderita kanker hati stadium lanjut. Saya sudah berkonsultasi dengan dokter bedah dan dokter ahli tumor, penyakit bapak sudah masuk stadium akhir. Tak banyak yang dapat saya dan dokter-dokter yang lain dapat lakukan lagi pak."

Pria itu terkejut. Hanya ada dia dan guru kami di ruangan itu. Seketika suasana begitu sepi, begitu dingin dan begitu sunyi. Hanya ada angin semilir yang berhembus pelan. Seakan berhati-hati agar tak melukai lagi mendingini orang-orang di ruangan itu. 

"Subhanallah, berapa banyak waktu yang saya punya, dok ?

"Tidak ada yang pasti pak, amat bergantung pada kondisi bapak. Namun dari penelitianyang pernah ada, kemungkinan bapak punya waktu enam bulan."

"Enam bulan ?!"

"Saya takut begitu pak."

Air matanya menetes membasahi pipinya. Usianya masih amat belia. Bahkan anaknya belumlah mengenal baca tulis. Istrinya, hanyalah ibu rumah tangga biasa. Semenjak menikah tak lagi bekerja di luar rumah. 

"Dok, saya punya sebuah permintaan."

"Iya, apa yang dapat saya bantu, pak ?"

"Saya minta semua ini dirahasiakan pada seluruh keluarga saya dok. Saya minta yang mengetahui hal ini hanya saya dan dokter saja."

Guru kami mengangguk pelan

"Baik pak, insyaAllah. Namun saya harap bapak tetap memeriksakan kondisi bapak secara berkala. Saya dapat membantu memberikan pada bapak obat-obat untuk mengurangi gejala-gejala yang bapak derita."

"Baik dok, insyaAllah saya akan rutin datang ke dokter untuk kontrol."

Hari-hari setelahnya amatlah berat. Guru kami hanya mengetahu sedikit saat beliau menangani pria itu untuk pemeriksaan rutinnya. Dan seiring berjalannya waktu, terlewatlah masa enam bulan itu. Kondisi pria itu memburuk dengan amat drastis. Ia kembali sekali lagi harus terbaring di tempat tidur itu lagi, di rumah sakit itu. 

Gejalanya makin parah. Guru kami sengaja berjaga malam itu. Tak biasanya dilakukan oleh dokter dengan derajatnya. Namun guru kami bilang bahwa ia telah memiliki keterikatan dan komitmen akan pasiennya. Khususnya pasien ini. 

Dan benarlah. Benar rupanya, malam itu ialah malam terakhirnya hidup di dunia nan fana ini. Malam itu, malaikat maut mencabut nyawanya. Segala usaha guru kami memberikan resusitasi tak membuahkan hasil. Dan sekali lagi, manusia tak bisa mampu mengalahkan kematian. Mungkin, karena memang hal ini bukan untuk dikalahkan.

Berhari-hari telah berlalu semenjak malam itu. Segala urusan soal pemakaman telah selesai dilakukan oleh istri dan keluarga pria itu. Namun pada sebuah pagi, datanglah sang istri beserta anaknya kepada guru kami. Sang istri hendak tahu soal kondisi suaminya. 

"Dok, punten, mohon maaf mengganggu. Saya hendak menanyakan soal almarhum suami saya. Yang dahulu pernah berobat kesini dan setelah pulang gejalanya membaik. Namun entah kenapa tiba-tiba memburuk beberapa waktu lalu hingga ia dipanggil yang maha kuasa. Dia tak pernah mau menceritakan setiap saya menanyainya. Karenanya, saya mohon dokter dapat memberikan penjelasan tentangnya."

Guru kami, pelan-pelan, menceritakan soal kejadian enam bulan yang lalu hingga permintaan khusus pria itu terhadapnya. Beliau berusaha selembut dan sejelas mungkin. 

Wanita itu, tertekuk lesu. Terduduk di kursi di sudut paviliun rumah sakit itu. Sembari menggendong buah hatinya satu-satunya, yang telah terlelap semenjak tadi. 

Guru kami diceritakan, bahwa memang pria itu amat lembut lagi santun. Ia amat tak pernah mau memberatkan siapapun sedikitpun. Diceritakan jua, bahwa dalam enam bulan terakhir ia amat giat bekerja hingga larut malam. Saat tiba akhir pekan ketika biasanya banyak pria seusianya beristirahat dengan tenang di rumah, ia berbeda. Ia giat berusaha mencari rezeki di luar pekerjaan sehari-harinya. Kemudian, entah ada angin apa, ia sempatkan secara rutin menemani anaknya sekolah di playgroup. Ia ambil cuti di perusahaan hanya agar dapat mengantar dan menjemput serta bermain bersama buah hatinya. Saat ditanya, ia hanya tersenyum simpul sembari menjawab, sedang ingin bermain bersama buah hatinya. Kemudian, yang paling mengejutkan, bahwa ternyata dalam enam bulan terakhir, dengan segala usaha-usahanya, ia meninggalkan bagi istri dan anaknya sebuah bangunan kos-kosan di sebuah tempat yang ramai lagi berpotensi. Semua itu, beserta rumah dan kendaraannya telah diatasnamakan dengan nama istrinya. Tak lupa, ternyata ia telah menyisihkan seluruh pendapatan dan tabungannya, untuk menjaminkan pendidikan buah hatinya kelak. 

                                                                          ***

Saat tahu kapan waktu itu datang, mereka-mereka, pribadi luar biasa. Dewasa lagi bijak, melaju melesat tanpa ragu menyiapkan segalanya. 

Saya pernah mendengar, terpidana hukuman mati di malam-malam terakhir menjelang eksekusi kematiannya, beberapa ada yang bertaubat dan mencoba kembali pada jalan yang diteguhkan yang maha kuasa. Beberapa menghabiskan waktu-waktunya dengan beribadah semampunya, sekeras-kerasnya, sebanyak-banyaknya. Sekhusyu'-khusyu'nya, mereka berusaha. 

Saat tahu kapan waktu itu datang, mungkin karena terasa dekat. Karena terasa tak banyak lagi waktu tersisa, maka mereka-mereka yang dewasa lagi bijak mengusahakan sebaik-baiknya. Tak membuang waktu dengan sesal lagi kecewa apalagi amarah dan depresi. Usahakan sebaik-baiknya karena ada yang harus dilindungi, ada yang harus ditinggalkan dengan tenang tanpa gelisah. 

Namun yang lebih menyentuh hati kami, bahwa sejatinya, bisa jadi waktu kami lebih singkat daripada enam bulan waktu pria itu. Waktu kami, yang belum ada petunjuk-petunjuknya, menyisakan kemungkinan esok pagi, nanti malam, sebulan lagi, setahun lagi atau bahkan sebentar lagi. 

Inilah hakikatnya soal takdir. Sudah tertulis namun rahasia. Karenanya, yang bisa dilakukan hanyalah memberi yang terbaik setiap saat. Dan bersiap-siap setiap saat. Maka tak ada waktu untuk cengeng dan bersusah hati, inilah waktu mendewasa dan membijaksana. Siapkan sebaik-baiknya saat waktu itu datang. Jauhi hutang, jika memang telah ada maka siapkan jaminan jika terjadi apa-apa. Jika ada tanggungan pada diri kita, maka siapkan contingency plan bila terjadi apa-apa pada kita. Dan yang paling esensial, mungkin, ialah menyiapkan bekal perjalanan sebaik-baiknya untuk perjalanan akhir itu. 

Yang paling cerdas diantara kalian ialah mereka yang mengingat kematian - Rasulullah SAW

Jakarta, dua puluh satu Desember dua ribu lima belas.