#1
Waktu itu kami sedang berusaha mandiri dan belajar mengatur kebutuhan finansial sendiri. Lantas setelah dianalisa, ternyata pengeluaran yang cukup besar dan terbilang sia-sia berasal dari sisi transportasi. Lalu terbersitlah beberapa opsi soal pengematan. 

1. Naik angkutan umum, dengan biaya harian yang cukup lumayan juga dengan segala keterbatasannya, soal waktu utamanya. 
2.  Membeli motor, motor bekas tepatnya. Namun akan menghabiskan sejumlah besar uang yang sedang kami kumpulkan meski biaya hariannya jauh lebih murah daripada angkutan umum. 

Hati kami cenderung pada pilihan kedua. Meski sedih juga akan terpakai sejumlah uang yang telah dikumpulkan, namun kami berpikir bahwa kebermanfaatannya insyaAllah akan lebih banyak. 

Di malam sebelum pilihan ini hendak kami laksanakan, seorang sahabat saat itu sedang beres-beres di kosannya untuk pindahan, kembali ke kota asalnya. Kami ada disana sedikit membantu. Kemudian, ia berkata," Bro, gue nitip motor dulu sementara di lu ya. Susah kalau dibawa sendiri atau dikirim. Lagian belum tentu kepake juga kalau di rumah."

#2
Hari itu diawali dengan terik mentari nan amat cerah. Menyilaukan lagi menghangatkan. Namun saat sang raja siang duduk di takhtanya, di tengah hari, sang langit seakan menjadi bingung. Cerah tidak, tanda-tanda hujan juga belum pasti. Saat sang sore menjelang rupanya langit belumlah juga mampu memutuskan. Namun kami ternyata harus segera pulang. Ada yang harus segera kami kerjakan, yakni tugas ujian dan beberapa amanah lainnya. Lantas kami bergegas dan memacu motor dengan hati-hati. Hingga tiba di rumah, ternyata bersamaan dengan tetesan rintik hujan yang jatuh satu persatu lalu langsung memburu. Membasahi permukaan bumi dengan adil, menumbuhkan sendu dan rindu di hati para pemuda pemudi, dan menyegarkan dahaga pepohonan yang telah lama meranggas. 

Terlambat satu dua menit mungkin kami akan menjadi bagian dari hegemoni hujan itu, kuyub hingga dalam-dalamnya. 

#3
"Bro, ada job ga ?"
"Lagi ga ada nih bro."

Beberapa hari kemudian

"Bro, ada job lumayan nih. Mau ngambil ga ?"
"Ok InsyaAllah, tapi lagi diluar nih. Boleh tolong di handle dulu ga, nanti pas saya nyampe rumah saya beresin."

Beberapa waktu kemudian
"Bro, jadi ga sih ngambil job nya ?"
"Maaf, maaf, belum nyampe rumah nih."
"Kalau bisa bilang bisa, kalau emang ga bisa ga usah dipaksain !"
"Maaf, tadi kan udah bilang, bisa ngeberesin dan ngurusin kalau udah nyampe rumah."
"...."

Akhirnya ga pernah lagi dapet job dari temen ini karena masalah sederhana ini. Namun, esoknya tiba-tiba masuk sebuah pesan di telefon genggam kami. 
"Assalamualaikum, kang. Punten mohon maaf ganggu, kami dari panitia acara "X" hendak mengundang akang jadi pemateri talkshow di acara kami, di hari "Y" tanggal "Z". Apakah akang bersedia dan bisa ?"

Seminggu kemudian. 

"Assalamualaikum, kang. Punten mohon maaf mengganggu, saya "O" dari panitia agenda "X" hendak mengundang akang untuk menjadi moderator pada acara kami, hari "Q" tanggal "R". Apakah akang bersedia ?"

"Saya lagi dek ?"
"Iya kang..."

#4
"Jangan ada yang terlambat ya, jam setengah tujuh udah harus disini. Nanti kalau telat dapat kasus sisa !"

Ceritanya, karena kemacetan dan kehilangan barang, kami terlambat datang 15 menit. Dan benarlah ternyata kami mendapatkan kasus sisa saja, yang kadang jackpot atau aneh-aneh. 

Namun, setelah ujian, seorang teman berkata,
"Kok aku dapet kasus ini ? ini kan ga pernah ada sebelum-sebelumnya, baru kali ini doang. Ah, coba kamu datang duluan, pasti kamu yang dapet !"

#5
"Bro gimana bulan ini, makan di "M" yuk !"
"hehe, engga dulu deh, lagi nabung, dan ini mau ngebina dulu."

Habis ngebina, adik binaan tiba-tiba ngajak makan,
"Kang, makan di "E" yuk !"
"Ah, jangan deh, itu kan jatahnya buat yang jaga."
"Wah, buktinya apa nih kang ? Ga ada loh dibilang di surat edarannya soal jaga atau engga. Disana tertulis makan di "E" teh buat koas dan residen. Ga ada kata jaganya kang."
"Yang bener ?"
"Bener kang."

Nimbrung temen yang tadi, 
"Nah bro, pait-paitnya lu usaha, minimal InsyaAllah tiap hari ga bakal kelaperan dah. Makan aja di "E". Ada kan tiap hari ?"

Kadang rezeki tak selalu soal uang. Kadang bentuknya bantuan, kadang kemudahan, kadang jalan keluar di kala kesulitan, kadang bahkan sesederhana terhindar dari kesusahan. Tapi kadang kita lupa dan fokus dengan uang. Jika kita resapi baik-baik, banyak sekali rezeki yang (mungkin) lupa kita syukuri. 

Soal rezeki adalah soal hati. Dan soal mensyukuri. Ada yang cuma bisa makan nasi bungkus berdua tapi lezatnya luar biasa. Tapi ada yang bisa makan di restoran dan memesan banyak makanan buatan koki papan atas namun tetap saja tidak puas. Ada yang tidurnya hanya beralaskan kain tipis dan berselimutkan sarung saja namun dapat tertidur pulas. Tapi ada yang terlelap di atas kasur yang harganya jutaan namun tak dapat menemukan kenyenyakan. 

Soal rezeki adalah soal ketetapan ilahi. Ada yang kadang makan kadang tidak, namun saat berkesempatan makan bisa mencicipi apa saja yang bisa dicicipinya. Ada yang berkecukupan namun saat hendak makan sudah banyak peringatannya,"pak awas kolesterolnya !";"pak, awas dijaga gula darahnya !"

Soal rezeki adalah soal menggapainya dengan cara yang Ia cintai, agar Ia berikan juga dengan cara yang menyenangkan hati. Uang sepuluh juta, bila disampaikan baik-baik, disampaikan dengan amplop coklat yang terbungkus rapih, dan diserahkan dengan sopan santun serta akad yang baik, niscaya akan menyenangkan hati. Namun uang sejumlah sama, jika diberikan dengan kasar, dilemparkan ke muka, tak terbungkus hanya terikat dengan temali yang semrawut, meski tak berbeda nominalnya namun dapat saja bahkan membuat marah yang menerimanya. 

Soal rezeki, jalani saja ikhtiar yang di ridhai, bersabar dalam menunggu, dan siapkan dada nan lapang saat menerima kabar. Tak ada yang tahu nanti hasilnya musibah atau anugrah, namun insyaAllah semua hal pasti berhikmah. 

Kita terkadang meminta dan berdoa soal apa yang kita inginkan, tapi Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan. Tak peduli sekeras apa kita beranggapan mengenal diri sendiri, tapi Allah selalu lebih mengenal hambanya. 

Rezekiku tak akan diambil orang, karenanya aku tenang. Amalku tak akan dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang - Hasan Al Bashri
Dan salah satu yang termasuk dalam rezeki itu, ialah jodoh.

Bandung, lima Desember dua ribu lima belas