Mirror Neuron, alasan biologis kita peduli

Mirror Neuron, adalah saraf-saraf yang ditemukan pada bagian Brooca disekitar parietal bawah otak manusia. Kasarnya, berada di sisi kiri kanan otak manusia. Mirror Neuron, aktif saat seseorang melakukan sebuah kerja atau juga jikalau seseorang melakukan kerja. 

Mirror Neuron disinyalir sangat berfungsi saat kita belajar, memperhatikan, serta mendengarkan. Yang mampu membuat kita dapat meniru apa yang dilakukan atau dikatakan oleh orang lain. Dengan adanya Mirror Neuron, kita juga dapat menerka serta menganalisa apa yang diinginkan oleh orang lain. 


Namun, sebuah manfaat lain tertunjukan pada mirror Neuron. Saat dilakukan pengetesan dengan MRI, electroencephalography (EEG) and magnetoencephalography (MEG) ternyata terdapat aktifitas otak pada lokasi anterior insula,anterior cingulate cortex, and inferior frontal cortex saat dihadapkan dengan berbagai macam bentuk emosi. Dan tubuh tanpa disadari melakukan gerakan-gerakan setelah melihat berbagai bentuk emosi tersebut. (Decety 2002). 


Hal ini mendukung sebuah hipotesis yang sering terdengar, bahwa ternyata 

SEMANGAT ITU MENULAR 

Dengan melihat orang lain, otak kita kan teraktivasi dan secara tidak sadar akan melakukan apa yang dilakukan oleh orang itu, dan bukan tak mungkin dapat merasakan juga apa yang dirasakan oleh orang tersebut. 

Secara biologis, sebenarnya kita telah memiliki alasan untuk Peduli. 

Namun ternyata, Rasulullah pernah bersabda dalam haditsnya yang artinya :

Seorang Mukmin merupakan cermin bagi mukmin lainnya, yang apabila ia melihat aib pada saudaranya, ia memperbaikinya. (HR Bukhari)

Sesungguhnya kita telah memiliki alasan yang kuat untuk peduli. Tapi kenapa, banyak manusia rela melukai saudaranya ? dan kenapa banyak yang hanya diam saja ?

Kenapa Manusia Berhenti Peduli

Alasan #1 : karena ia tidak tahu. karena ia tidak faham. karena ia mungkin saja mendapatkan informasi yang salah. ia mungkin saja tidak tersentuh dengan banyak berita penderitaan yang ada didunia. karena dunianya menjauhkannya dari hal itu

Alasan #2 : karena ia menolak untuk tahu. karena ia acuh. mungkin kejenuhan, mungkin keresahan, mungkin kekecewaan hidup membuatnya menyesal pernah peduli. hingga ia yang sengaja menjauhkan diri. 

Alasan #3 : karena ia tahu dan faham, namun ia merasa benar. ia merasa beberapa manusia pantas mendapatkannya, entah dengan alasan apapun. ia merasa, mereka yang salah patut merasakan, mungkin hal yang pernah dirasakannya dahulu. 

Alasan #4 : karena ia merasa hal itu tidak berpengaruh pada kehidupannya. ia merasa peduli tidak peduli sama saja. ia merasa, mereka yang menderita itu bukan saya, bukan keluarga saya, bukan teman saya, bukan kerabat yang dikenal saya, bukan orang dari negara saya, serta banyak bukan lainnya. satu yang tidak mungkin ia sanggah, bahwa yang menderita itu adalah manusia juga. dalam kesamaan timbul persaudaraan. saat yang menderita ini manusia, adalah wajar jika manusia lain peduli karena dengan prinsip persamaan ini menjadikan tiap manusia bersaudara. saat mereka yang menganggap diri manusia tidak peduli, patut dipertanyakan lagi, BENARKAH IA MANUSIA ? 

Kita telah tahu, kenapa sebenarnya kita dapat peduli. Kita juga telah tahu, kenapa sebenarnya kita masih belum peduli. Dosa itu takkan terhitung jika sang empunya atau pelaku dosa tidak tahu menahu tentang apa yang dinilai menimbulkan dosa dan apa yang tidak. Kini kita telah tahu, jadi bukankah dosa dapat timbul saat kita mengabaikannya ?

Bagaimana cara kita "Mulai" Peduli ?

1. Peka dan paham dahulu hal yang terjadi disekitar kita. 
2. Internalisasi dan coba visualisasikan diri. Bayangkan, jika perihal tersebut terjadi pada diri kita sendiri
3. Sadari kapasitas diri, dan lakukan dari apa yang kita bisa.
4. Setelah jadi peduli, ajaklah orang lain untuk peduli.
Karena Sepotong lidi kan patah sedang seikat lidi kan bertahan lebih lama.

Wahai saudara,
dimana engkau berada ?
kenapa kini sepi terasa, tanpa kehadiranmu, yang kucinta

dimana semua asa,
yang dulu pernah kita hembuskan bersama,

dimana kau berada, kini diri dalam derita,
bantuanmu tak kunjung ada, sedang gulana pelan-pelan menyekap realita.

dalam dinginnya dekap malam gulita,
aku meminta pada-Nya,
"Kembalikan hati saudara hamba, wahai penguasa alam semesta. Seperti sedia kala laiknya bayi suci tak bercela"

Untuk saudaraku, yang sedang sakit 'Hati'nya di Indonesia


Fajar Faisal Putra
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran